Dampak Banjir Bagi Ekonomi, Karyawan Tak Bisa Kerja Hingga Cabai Melejit

Dampak Banjir Bagi Ekonomi, Karyawan Tak Bisa Kerja Hingga Cabai Melejit

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 20 Jan 2014 10:42 WIB
Dampak Banjir Bagi Ekonomi, Karyawan Tak Bisa Kerja Hingga Cabai Melejit
Jakarta - Beberapa hari belakangan ini, curah hujan di sejumlah daerah di Indonesia sangat tinggi. Banjir pun terjadi di beberapa daerah, yang tingginya cukup parah dan luas cakupannya. Apa dampak banjir ini bagi ekonomi?

Banjir tak hanya terjadi di ibu kota Jakarta. Di sejumlah daerah di Jawa, bahkan hingga Sulawesi, banjir menerjang. Bahkan di Manado, Sulawesi Utara, curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir bandang yang membuat wilayah tersebut lumpuh.

Pemerintah memang harus serius dalam membuat perencanaan pembangunan untuk mengurangi banjir. Jangan sampai ekonomi akhirnya jadi lumpuh akibat banjir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut dampak-dampak banjir bagi perekonomian Indonesia, seperti dihimpun detikFinance, Senin (20/1/2014).

1. Karyawan Tak Bisa Kerja

Ketua Uum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, banjir yang terjadi, khususnya di Jakarta dan wilayah-wilayah industri lain, membuat karyawan dan buruh memutuskan tidak bekerja. Ini karena rumah dan akses menuju tempat kerja kebanjiran.

"Karyawan kita banyak sekali yang nggak masuk karena rumahnya sedang banjir," kata Sofjan.

Sofjan menegaskan, dengan tidak masuknya karyawan tersebut otomatis aktivitas di sejumlah kawasan industi menjadi sedikit terganggu. Dia khawatir kondisi ini akan terus berlangsung lebih lama lagi.

"Kita jadi was-was. Makin hari makin parah, saya jadi khawatir," ucap Sofjan.

Meski demikian, Sofjan mengatakan, sejumlah perusahaan sudah mengantisipasi kondisi ini. Mesin-mesin produksi sudah diamankan ke tempat yang relatif lebih tinggi agar aman dari genangan.

Masih menurut Sofjan, meski sedikit terganggu, belum ada perusahaan atau idustri yang tutup sementara karena kebanjiran. Mereka masih menjalankan usahanya meski dengan kapasitas produksi yang diturunkan.

"Sementara belum ada yang tutup. Kita merasa masih bisa bekerja," tutupnya.

2. Pengusaha Sulit Kirim Barang

Banjir dan cuaca yang ekstrem merugikan para pengusaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pengusaha sangat khawatir karena biaya produksi naik, akibat terhambatnya pengiriman barang ke luar Pulau Jawa.

"Yang paling rugi itu logistik kita. Kita nggak bisa kirim barang lagi, ombak besar di luar Pulau Jawa," kata Sofjan.

Sofjan mengatakan dampak tersebut tak hanya disebabkan oleh banjir di Jakarta, tapi juga cuaca ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia. Menurutnya, tak bisa dipungkiri harga-harga bahan pokok yang dikirim dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa akan mengalami kenaikan.

"Banjir tidak hanya di Jakarta, di Manado juga banjir, cuaca ekstrem ombak besar sehingga terjadi kelangkaan di luar Jawa, harga naik karena ombak besar itu beberapa hari terjadi kita nggak bisa kirim barang. Kalau kirim pakai pesawat biayanya lebih tinggi lagi," papar Sofjan.

Sofjan memprediksi, kondisi ini masih akan terus terjadi hingga bulan depan. Hitungannya sementara, kerugian diprediksi mncapai ratusan miliar dari pengusaha di seluruh Indonesia.

"Kita belum bisa hitung. Tapi sebenarnya saya kira sudah ratusan miliar sekarang," jelasnya.

3. Harga Bawang Sampai Cabai Merah Melejit

Harga sayur-sayuran kian melejit akibat banjir yang menyapu berbagai wilayah di Jakarta. Jalur distribusi terhambat, harga sayur pun kena imbasnya.

Kaminem (57), seorang pedagang sayur di pasar Jati Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Timur mengaku, banjir yang melanda Jakarta membuat harga sayuran tak terkendali. Hampir seluruh sayuran hargnya naik.

"Harga naik semua hujan terus-terusan, transportasi barang dari Jawa terhambat, bawang merah dari Brebes juga susah datenginnya," ujar Kaminem.

Dia mengungkapkan, meskipun harga melonjak diakuinya pasokan tetap aman. Penjualan pun masih stabil. "Penjualan stabil tapi harga melonjak, pasokan masih aman," kata dia.

Tak hanya itu, harga telur ayam juga ikut naik. Seorang pedagang telur bernama Madi (46) mengaku, sudah seminggu terkhir harhga telur naik menjadi Rp 19.500 per kg dari sebelumnya yang hanya Rp 18.500 per kg.

Berikut harga sayuran di Jakarta:

  • Bawang merah naik menjadi Rp 25 ribu per kg dari sebelumnya Rp 22 ribu per kg
  • Bawang putih naik menjadi Rp 20 ribu per kg dari sebelumnya Rp 16 ribu per kg
  • Cabai merah naik menjadi Rp 50 ribu per kg dari sebelumnya Rp 45 ribu per kg
  • Cabai hijau naik menjadi Rp 22 ribu per kg dari sebelumnya Rp 18 ribu per kg
  • Cabai rawit merah naik menjadi Rp 40 ribu per kg dari sebelumnya Rp 35 ribu per kg
  • Cabai rawit hijau naik menjadi Rp 35 ribu per kg dari sebelumnya Rp 20 ribu per kg
  • Tomat naik menjadi Rp 11 ribu per kg dari sebelumnya Rp 10 ribu per kg
  • Kacang panjang naik menjadi Rp 16 ribu per kg dari sebelumnya Rp 14 ribu per kg
  • Wortel naik menjadi Rp 8 ribu per kg dari sebelumnya Rp 6 ribu per kg
  • Buncis naik menjadi Rp 12 ribu per kg dari sebelumnya Rp 10 ribu per kg.

4. Pengusaha Rugi Puluhan Hingga Ratusan Miliar Rupiah

Banjir yang melanda Jakarta beberapa hari beberapa hari ini ikut melumpuhkan sektor usaha. Pengusaha mengaku rugi ratusan miliar per hari karena banjir.

Wakil Ketua Kadin Jakarta Sarman Simanjorang menyebut, banjir besar yang melanda kota Jakarta bukan lagi lima tahunan, namun sudah menjadi tahunan yang selalu mengancam aktivitas ekonomi dan aktivitas masyarakat.

"Beberapa pusat bisnis di Jakarta hampir berhenti total akibat akses jalan yang menggenangi yang tidak bisa dijangkau oleh pengunjung atau konsumen, seperti kawasan Mangga Dua, kawasan Kepala Gading dan kawasan Jatinegara," kata Sarman.

Di kawasan Mangga Dua contohnya, Sarman mengatakan di situ setidaknya terdapat enam pusat perdagangan yaitu Pasar Pagi, ITC, WTC, Mangga Dua Square, Mall Mangga Dua serta Harco Mangga Dua. Karena banjir ini, pusat perbelanjaan tersebut mengalami kerugian.

"Dengan perkiraan jumlah pedagang mencapai 20 ribu toko, omzet rata rata Rp 5 juta per kios maka taksiran kerugian mencapai Rp 50 miliar per hari," jelas Sarman.

Belum lagi di kawasan Kelapa Gading yang menurut Sarman kerugian pengusaha diperkirakan mencapai Rp 40 miliar setiap hari akibat ratusan toko, perkantoran, mal tutup. Bahkan dikatakan Sarman, beberapa kantor cabang bank mengalihkan pelayanan nasabah ke kantor bank terdekat akibat tidak bisa beroperasi.

Sedangkan di kawasan Tanah Abang, omzet pedagang diperkirakan turun sampai 60% akibat para pembeli tidak dapat menembus akses menuju tanah abang. Omzet di Tanah Abang diperkirakan mencapai Rp 200 miliar per hari dengan situasi yang normal.

"Sedangkan di kawasan Jatinegara Barat hampir semua toko tutup, aktivitas perdagangan di sana hampir lumpuh," terangnya.

Sarman melanjutkan, di kawasan Industri Pulogadung sempat terkena banjir di beberapa titik dengan ketinggian mencapai 50 cm, namun belum sampai mengganggu aktivitas sekitar 300 pabrik yang ada di kawasan tersebut.

Sementara di Kawasan Berikat Nusantara, sampai saat ini proses produksi industri padat karya khususnya garmen dan tekstil masih berjalan normal.

"Diharapkan kedua kawasan industri ini bisa terhindar dari banjir karena akan sangat mengganggu proses produksi dan pengusaha akan mengalami kerugian yang sangat besar seperti yang dialami tahun yang lalu," katanya.

Berdasarkan pengamatan di pelabuhan Tanjung Priok, dampak banjir yang mengakibatkan arus lalu lintas mengalami kemacetan yang begitu panjang dengan waktu tempuh yang begitu lama menuju pelabuhan, kerugian dari sisi transportasi mencapai Rp 9 miliar.

"Itu belum termasuk kerugian akibat keterlambatan keluar dan masuknya barang ekspor impor dari pelabuhan Tanjung Priok," tegas Sarman.

Sarman pun mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menanggulangi bencana ini.

"Peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah di kali karena akan mempercepat penyumbatan. Pemprov DKI Jakarta agar memperbanyak pengadaan tong sampah di berbagai pojok ibu kota untuk lebih menarik kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya," tutupnya.
Halaman 2 dari 5
(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads