Pemerintah Singapura melalui Land Transport Authority (LTA) melakukan berbagai cara untuk mengatur dan mengontrol jumlah kendaraan pribadi
yang melintas di jalan termasuk kendaraan roda dua.
Caranya menerapkan sistem jalanan berbayar atau electronic road pricing (ERP) di berbagai titik jalan yang sering terjadi kemacetan.
"Nggak semua jalan. Jalan-jalan yang macet-macet," Kata warga Singapura bernama Edy, Selasa (22/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singapura.
Penerapan ERP ini pun berlaku untuk semua tipe kendaraan bermotor termasuk sepeda motor dan mobil. Setiap sepeda motor dikenakan biaya hingga SGD 0,5 atau 50 Sen atau sekitar Rp 4.500 saat melewati jalanan yang dipasang ERP seperti di kawasan Bugis.
"Motor kena biaya saat lewat kawasan macet. Besarannya 50 sen," jelasnya.
Dari pantauan detikFinance, di kawasan Bugis terlihat pada setiap sepeda motor dilengkapi alat yang digunakan untuk menangkap sinyal ERP. Alat ini terpasang di bagian depan sepeda motor, alat ini bernama INCA Unit.
Selain itu, di jalan tertentu terdapat sensor dan layar ERP yang membentang di atas jalanan negara tetangga Indonesia ini. Untuk tarif
ERP, besarannya bervariasi tergantung jenis kendaraan, waktu dan jalanan. Tarif ERP termurah mulai SGD 0,5 hingga termahal senilai SGD 6 untuk kategori bus.
"Biasanya saat jam berangkat kerja dan berangkat. Ada juga yang siang," sebutnya
Edy menjelaskan pada mesin ERP dilengkapi kartu isi ulang. Saldo pada mesin INCA Unit yang terpasang di kendaraan akan berkurang secara
otomatis saat melewati sensor ERP yang terpasang di jalanan. Namun ketika saldo tidak mencukupi, akan muncul tanda pada mesin INCA Unit.
"Kalau nggak cukup uang. Kalau abis nanti bisa kena denda," terangnya.
(hen/hen)










































