Proyek MRT tahap I membentang sepanjang 15,7 km dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Proyek ini dibiayai oleh JICA dan dikerjakan olek kontraktor asal Jepang dengan menggandeng kontraktor asal Indonesia.
Ditargetkan proyek moda transportasi masa depan DKI Jakarta ini, bisa beroperasi pada semester I-2018. Saat beroperasi, MRT Jakarta diklaim lebih canggih dari desain MRT asal Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu lintas kereta MRT akan dikendalikan dari pusat kontrol di depo MRT yang terletak di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Meski dikendalikan secara otomatis, setiap rangkaian kereta punya petugas yang memandu penumpang untuk ke luar masuk kereta.
MRT Jakarta tahap I nantinya memiliki 13 stasiun bawah tanah dan layang. Untuk kereta akan didatangkan langsung dari Jepang.
Setidaknya akan ada 96 kereta yang terbagi dalam 16 set atau rangkaian. Setiap set akan terdiri dari 6 kereta. Kapasitas setiap kereta mencapai 200 orang.
"Headway (jarak antar kereta) 5 menit dan kapasitas angkut 1.200 penumpang (1 rangkaian)," jelasnya.
Jepang sendiri merupakan salah negara yang sangat maju dalam pengembangan MRT di dunia. Sehingga sangat relevan menggandeng Jepang untuk mengembangkan MRT Jakarta fase I.
Dengan skema tight loan, 70% komponen MRT Jakarta harus didatangkan atau menggunakan kontraktor dari Jepang. Sementara 30% komponen MRT dari Indonesia.
"Nanti fase II (Bundaran HI-Kampung Bandan) bisa pakai untight loan sehingga kontraktor atau kereta bisa dari mana saja," terangnya.
(hen/ang)











































