Aidil Akbar Majid, praktisi perencanaan keuangan, mengatakan asuransi kerugian untuk rumah dan kendaraan terdiri dari dua macam, yaitu named perils policy yaitu perlindungan asuransi yang disebutkan dalam polis, dan asuransi all risk.
Tapi Aidil mengatakan banyak konsumen yang salah kaprah dengan menganggap bahwa asuransi all risk akan menanggung semua risiko. All risk, kata dia, memang menanggung semua resiko, tetapi tidak yang dikecualikan.
Asuransi rumah dan kendaraan, kata Aidil, biasanya menggunakan yang disebut dengan polis standar yang menyebutkan apa saja yang di-cover atau tidak di-cover. Dulu polis standar kerugian rumah juga meng-cover seluruh kerugian termasuk akibat dari banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa juga terjadi untuk asuransi kendaraan bermotor. “Yang akan di-cover biasanya adalah kendaraan yang terendam di suatu tempat, misalnya garasi atau lokasi penyimpanan yang standar. Apabila Anda berkendara kemudian nekat menerjang banjir dan rusak, maka klaim berpotensi untuk tidak dibayar,” kata Aidil.
Begitu juga ketika air sudah surut, jangan memindahkan kendaraan apalagi menyalakan mesinnya. “Yang akan terjadi adalah air akan masuk ke mesin dan menyebabkan kerusakan. Ini dikenal dengan istilah water hammer, dan ketika Anda mengajukan klaim asuransi berpotensi tidak dibayar,” tuturnya.
Aidil menyarankan konsumen cermat dalam memilih asuransi. “Tanyakan kembali kepada customer service atau broker asuransi apakah ada coverage banjir. Kemudian pelajari syarat dan ketentuan yang tercantum di polis,” ucapnya.
Sementara itu, pihak asuransi berharap tahun ini klaim takkan sebesar awal 2013. Pada tahun lalu, banjir menyebabkan industri asuransi mengeluarkan dana sekitar Rp 3 triliun untuk menanggung kerugian masyarakat.
Kornelius Simanjuntak, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), memperkirakan klaim tahun ini tidak sebesar 2013. “Perkiraan saya tidak sampai Rp 1,5 triliun atau setengah dari tahun lalu. Mudah-mudahan ya,” katanya.
Hujan lebat, tambah Kornelius, diperkirakan masih akan terjadi sampai pertengahan Februari. “Dengan asumsi tidak ada tanggul jebol seperti tahun lalu dan faktor-faktor lainnya, mudah-mudahan klaim tidak setinggi tahun lalu,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Kornelius, sudah ada beberapa klaim yang masuk. “Namun belum seluruhnya karena orang-orang belum berpikir mengklaim asuransi. Mereka masih sibuk beres-beres, dan mengantisipasi mungkin banjir akan datang kembali,” ucapnya.
Bagi pemegang polis, ada beberapa hal yang diimbau oleh Kornelius. Bagi pemilik kendaraan bermotor misalnya, dia mengimbau agar tak nekat menerjang banjir. Lalu, selepas banjir jangan langsung menyalakan mesin kendaraan.
Untuk harta benda seperti rumah atau toko, Kornelius menyarankan pemilik untuk menaruh barang-barang di tempat yang lebih tinggi dari lantai agar tidak langsung bersentuhan dengan air. “Bagi yang tinggal di daerah rawan bajir, sebaiknya mempersiapkan diri lebih awal. Jangan menunggu sampai airnya naik,” tuturnya.
(hds/DES)










































