Perbanas Siap Biayai Proyek Pembangunan Infrastruktur

Perbanas Siap Biayai Proyek Pembangunan Infrastruktur

- detikFinance
Selasa, 30 Nov 2004 17:25 WIB
Jakarta - Perbanas menyatakan dukungannya kepada pemerintah terkait dengan pembiayaan pembangunan proyek infrastruktur. Perbanas juga tidak akan menuntut insentif dari pemerintah.Namun, jika pemerintah memutuskan memberikan insentif diharapkan hal itu dilakukan secara konsisten."Secara umum Perbanas akan mendukung bisnis seperti pekerjaan infrastruktur," kata Ketua Umum Perbanas Agus Martowardoyo di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Jakarta, Selasa, (30/11/2004).Menurut Agus yang juga Dirut Bank Permata, kalangan perbankan sebenarnya melihat bisnis yang bagus adalah bisnis yang tidak memerlukan adanya subsidi atau insentif, kecuali jika pemerintah melihat bahwa bisnis yang dibiayai itu kurang menguntungkan. Misalnya, proyek pembangunan rumah sederhana.Dari sisi perbankan, lanjut Agus, bank-bank bisa membentuk sindikasi atau club untuk membiayai berbagai proyek dengan catatan bank bersangkutan memiliki karakteristik yang sama.Bank Permata sendiri, lanjut Agus, masih akan melihat seperti apa rencana proyek pembangunan infrastruktur tersebut. Pihaknya, akan tertarik membiayai proyek infrastruktur jika memiliki potensi."Kita akan berkoordinasi lebih dulu dengan tim yang dibentuk pemerintah di bawah pimpinan Raden Pardede. Kita akan hadir dalam presentasi dan paparan mereka. Kalau bisnisnya baik, bisa saja kita ikut ambil bagian," kata Agus.Prospek Perbankan 2005Sementara itu menyangkut kinerja perbankan pada tahun 2005, Agus mengaku optimis akan semakin membaik. Penyaluran kredit diharapkan bisa tumbuh antara 20-30 persen. Asumsi tersebut, didasarkan pada proyeksi realisasi ekspansi kredit sampai dengan akhir tahun 2004 yang diperkirakan tumbuh 27-30 persen.Hal senada juga diungkapkan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid di tempat yang sama. Menurut Arwin. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang berkisar 4,5-5,5 persen, diperkirakan akan memperlancar pertumbuhan kredit, baik itu permintaan modal kerja maupun konsumsi.Arwin membandingkan pada tahun 2004 ini pertumbuhan kredit mencapai posisi tertinggi sepanjang lima tahun terakhir. Jika dalam lima tahun terakhir rata-rata kredit hanya tumbuh Rp 50 triliun-Rp 60 triliun, maka pada tahun 2004, kredit diperkirakan bisa tumbuh hingga Rp 90 triliun.Dalam kesempatan yang sama, Arwin juga mengungkapkan mengenai beberapa sektor yang selama ini menjadi penyumbang NPL terbesar bagi perbankan. Sektor-sektor yang menyumbang NPL di atas 10 persen diantaranya, industri pengolahan, tekstil, perdagangan, distribusi, migas, dan batubara."Meski sektor itu NPL-nya tinggi bukan berarti industrinya buruk. Kalau pun ada masalah dengan NPL, mestinya harus divari penyelesaiannya karena kalau tidak diselesaikan bank tidak bisa masuk ke situ. Makanya, perlu ada koordinasi antara BI, Kadin, pemerintah dan industri untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut," katanya.Arwin juga menyatakan, kalangan perbankan pada tahun 2005 juga diharapkan bisa menurunkan suku bunga kreditnya. Misalnya, jika saat ini suku bunga kredit masih sekitar 14 persen diharapkan bisa ditekan hingga di bawah 12 persen. (umi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads