Kwik: Naikkan Pajak Mobil Mewah, Bukan Harga BBM
Selasa, 30 Nov 2004 18:52 WIB
Jakarta - Mantan Menteri Negara Pembangunan Nasional sekaligus Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Kwik Kian Gie tidak setuju dengan rencana pemerintah sekarang yang akan menaikkan harga BBM tahun 2005. Kenaikan harga BBM itu meski ditujukan untuk mengurangi subsisi bagi orang kaya, rakyat kecil akan tetap kena dampaknya.Demikian disampaikan Kwik dalam diskusi seminar "Agenda Tata Kelola Pembangunan 2004-2009", di hotel Sahid, Jl. Sudirman, Jakarta, Selasa (30/11/2004). "Pemerintah berusaha tidak memberikan subsidi kepada orang kaya. Tapi yang terjadi rakyat kecil kena juga. Harusnya terjadi subsidi selektif dengan tidak mennaikan harga BBM ini. Tapi Pemilik mobil mewah di atas 2000 cc dikenakan pajak setinggi-tingginya," jelas Kwik. Menurut Kwik, dari BBM sebenarnya pemerintah mendapat surplus Rp 1.500 per liter. Dijelaskan, biaya produksi BBM Rp 540 per liter. Tapi pemerintah menjual dan menerima rata-rata Rp 2.000 per liter. Untuk premium dijual Rp 1.850 premium per liter dan Rp 2.150 per liter untuk premix."Pos dalam APBN yaitu adanya penerimaan BBM. Subsdidi BBM dan bagi hasil BBM menurut saya jumlah surplusnya banyak sekali. Tapi saya belum merinci nominalnya," kata Kwik. Kwik menegaskan kenaikan harga BBM di luar negeri tak ada hubungan sama sekali dengan likuiditas di Indonesia. Kenaikan itu hanya terkait dengan volume net impor. "Tapi itu sangat kecil dan tidak permanen. Bisa dikompensasi dengan surplus tadi," demikian Kwik.
(iy/)











































