Sudah Bayar Mahal, Dikira Penyanyi Dangdut

Cosplay, Budaya Pop, dan Bisnis (3)

Sudah Bayar Mahal, Dikira Penyanyi Dangdut

Hidayat Setiaji - detikFinance
Jumat, 24 Jan 2014 15:20 WIB
Sudah Bayar Mahal, Dikira Penyanyi Dangdut
Osa dalam kostum Dream of Doll. (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Para cosplayer bisa dibilang sebagai orang yang 'gila'. Demi sebuah kostum yang menyerupai suatu karakter pengorbannya tidak main-main. Terkadang jutaan rupiah dikeluarkan untuk sebuah kostum.

Contoh saja Osa. Perempuan 26 tahun asal Yogyakarta ini menggeluti aktivitas cosplay sejak 2005. β€œNamun saya sudah membuat dan memakai kostum Sakura (Cardcaptor Sakura) di tahun 2001, tanpa menyadari kalau itu adalah cosplay,” ujarnya.
Β 
Awalnya, motivasi Osa menggeluti cosplay adalah agar bisa merasakan menjadi karakter favoritnya. Namun dalam perkembangannya, Osa menemukan kesenangan lain.
Β 
β€œDalam cosplay ada banyak hal yang saya pelajari, antara lain tata rias, menjahit, fotografi, koreografi, modeling, dan masih banyak lagi. Ketika saya memilih karakter untuk di-cosplay-kan selain karena menyukai karakter tersebut juga karena merasakan tantangan untuk memerankan karakter itu dan membuat kostumnya,” papar Osa.
Β 
Sejak 2005, sudah banyak kostum yang Osa kenakan. Namun karakter favoritnya adalah Alibaba Saluja dari komik Magi: Labyrinth of Magic. Osa juga pernah menghadiri sejumlah pergelaran cosplay di sejumlah kota seperti Jakarta, Semarang, dan Solo. β€œEvent cosplay terbesar yang pernah saya hadiri adalah lomba CLAS:H 2012 di Jakarta,” ujarnya.
Β 
Sejauh ini, Osa belum pernah mendapatkan cibiran negatif mengenai hobinya ber-cosplay ria. Namun dia pernah dikira penyanyi dangdut.
Β 
β€œSaya ditanyai tukang becak, β€˜mau dangdutan di mana, Mbak?’ waktu memakai baju cosplay dan wig pirang. Ada juga teman saya yang pernah membuat anak kecil menangis di mal gara-gara kostumnya mirip monster. Tapi yang paling mengesankan ketika ada anak-anak kecil yang berebut minta foto bareng ketika saya cosplay jadi boneka Dream of Doll,” ucapnya.
Β 
Mengenai berapa banyaknya dana yang dikeluarkan, Osa tidak bisa memastikan. β€œTapi untuk gambarannya saja, nominal terbesar yang pernah saya keluarkan untuk sebuah kostum sekitar Rp 1 juta untuk kostum Dream of Doll,” katanya.
Β 
Untuk mengakali biaya membuat kostum, cosplayer bisa mencicilnya. β€œMisalnya bulan ini buat sepatu, bulan depan buat celana, bulan berikutnya beli wig, dan seterusnya. Pengeluaran jadi tidak terlalu besar,” sebut Osa.

Salah satu cosplayer yang cukup dikenal di Jakarta adalah Andhika Mapparessa (30). Laki-laki yang berprofesi sebagai konsultan IT dan fotografer ini mulai bergelut dengan cosplay sejak 2006.
Β 
β€œSebenarnya mulai main kostum-kostuman sejak SMA, biasanya waktu haloween. Tapi saat itu istilah cosplay belum populer. Kemudian pada 2006 saat festival cosplay pertama di Bandung, saya baru tahu bahwa inilah yang namanya cosplay,” kenang Andhika.
Β 
Saat ini, Andhika memiliki delapan kostum seperti karakter Star Wars, Kungfu Panda, sampai Kiba dari seri Garo. Andhika pernah menjadi juara dalam sebuah kompetisi cosplay pada 2011, dan menjadi juri di sejumlah perlombaan serupa.
Β 
Soal kostum, Andhika lebih merasa cocok dengan karakter film Hollywood seperti Star Wars. β€œKalau kostum karakter Jepang butuh badan yang langsing. Saya kurang cocok,” ujarnya. Andhika pernah menggunakan kostum beberapa karakter Star Wars seperti Dath Maul dan General Kenobi.
Β 
Karakter Kiba menjadi kostum yang dinilai Andhika paling rumit sepanjang 'karirnya'. Kostum ini membutuhkan banyak komponen dan menghabiskan banyak cat. Demi kostum Kiba, Andhika mengeluarkan dana Rp 7,5 juta. β€œKalau untuk make up, paling sulit Darth Maul,” ujarnya.
Β 
Apakah cosplay merupakan hobi yang mahal? Andhika menilainya relatif. β€œBisa bermain cosplay dengan kostum-kostum yang simpel seperti seragam sekolah Jepang, itu lebih murah. Kalau mau mahal juga bisa, biasanya kostum rumit yang membutuhkan armor,” terangnya.
Β 
Selama menggeluti hobi cosplay, Andhika mengaku telah mengeluarkan dana sekitar Rp 40-50 juta. β€œItu ada kostum yang beli jadi, atau buat sendiri dengan kawan-kawan. Biasanya armor yang buat sendiri,” tuturnya.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads