Bisnis Sablon: Awas Pemesan Kabur

Pemilu dan Gerakan Ekonomi (3)

Bisnis Sablon: Awas Pemesan Kabur

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 29 Jan 2014 14:10 WIB
Bisnis Sablon: Awas Pemesan Kabur
Jakarta - Kampanye Pemilu tentunya tidak afdhal tanpa atribut. Kaus, topi, spanduk, atau bendera dalam berbagai ukuran menjadi hal yang wajib dalam setiap kampanye.

Haryadi adalah salah satu wirausahawan yang bergerak di bidang sablon. Di bengkel percetakannya yang terletak di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Haryadi yang dibantu lima orang pekerja biasa menerima pesanan spanduk, umbul-umbul, kaos, dan kartu nama.
 
Pria berusia 40 tahun ini sudah lama bergerak di usaha sablon. “Saya mulai sekitar tahun 2000. Waktu itu modal awalnya kalau tidak salah sekitar Rp 15 juta,” kata Haryadi.
 
Kini, omset usaha Hariyadi dalam sebulan bisa mencapai Rp 20 juta. Namun omset tersebut bisa naik cukup signifikan ketika Pemilu.
 
Hariyadi pernah dua kali merasakan nikmatnya pesta demokrasi, yaitu pada 2004 dan 2009. Kala itu, banyak partai politik maupun calon legislator yang datang kepadanya untuk memesan atribut kampanye.
 
“Ada yang pesan kaus, spanduk, topi, atau mug. Calonnya kan banyak, buat DPR pusat, DPRD provinsi, DPRD kabupaten. Itu semuanya untuk keperluan kampanye,” ujarnya.
 
Ketika musim Pemilu, Haryadi mengaku omset usahanya bisa naik sampai 50 persen. Pesanannya tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga daerah sekitarnya seperti Tangerang, Depok, dan Bekasi. “Kalau di luar kota belum. Kan banyak juga di daerah yang usahanya seperti saya,” ucapnya.
 
Namun, bukan berarti bisnis ketika Pemilu hanya yang manis-manis. Terkadang ada risiko, seperti pesanan yang tidak dibayar. Kalau sudah kejadian, siap-siap rugi jutaan rupiah.
 
“Biasanya yang memesan itu sudah tangan ke sekian, bukan langsung calegnya. Mungkin tim sukses atau semacamnya lah. Kadang ada kejadian begitu kausnya selesai, sudah diambil, tapi pemesannya buron,” tutur Haryadi.
 
Hariyadi pernah hampir mengalami kejadian seperti itu. “Tapi untung orangnya bisa ditemukan. Akhirnya saya tagih habis-habisan, dan dibayar meski mencicil. Memang usaha seperti ini harus tegas, kalau tidak bisa bahaya,” tegasnya.
 
Di tengah persaingan yang ketat, Hariyadi tetap senang bermain di bisnis percetakan ini. Menurut dia, boleh saja ada pesaing yang menawarkan harga lebih murah. Namun pada akhirnya, pelayanan dan kualitaslah yang menentukan.
 
“Di usaha seperti ini modalnya kepercayaan. Sekali saja kita membuat konsumen kecewa, dia tidak datang lagi dan tidak akan merekomendasikan kita ke orang lain,” kata Hariyadi.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads