“Saya datang saat kampanye di daerah Blok S, Jakarta Selatan. Lumayan, ada acara musiknya. Dapat snack dan minuman pula,” kata Mardi, di Jakarta kemarin.
Tahun ini, Mardi berharap pergelaran serupa terulang kembali. “Saya sih ikut yang mana saja, yang penting diajak. Bisa makan-minum gratis,” tuturnya.
Ketika kampanye terbuka, partai politik, calon legislator maupun calon presiden-wapres memang menyediakan konsumsi bagi para simpatisan yang hadir. Oleh karena itu, tidak heran jika industri makanan-minuman terimbas dampak positif dari pesta demokrasi lima tahunan ini.
Franky Sibarani, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), menyebutkan selama masa kampanye akan ada dana sekitar Rp 44 triliun yang beredar di masyarakat. Dari jumlah tersebut, 40-50 persen akan dibelanjakan untuk makanan dan minuman.
"Ini menguntungkan produsen makanan dan minuman. Saat kampanye sangat masif kami berharap akan mendorong makanan dan minuman. Dampaknya pasti positif, lumayan kalau dapat Rp 20 triliun," kata Franky.
Menurut Franky, mekanisme kampanye Pemilu yang lebih mengedepankan dialog tatap muka dan konsolidasi antara caleg dengan masyarakat sangat membantu industri makanan-minuman. “Kalau pola kampanye dengan menggunakan spanduk dan lainnya tidak terlalu besar dampaknya,” ujar dia.
Franky menambahkan, secara alami industri makanan dan minuman pada triwulan pertama biasanya mengalami penurunan. Pada triwulan pertama 2013, misalnya, industri ini turun 12 persen. “Semoga tahun ini tak sedrastis itu karena ada kampanye Pemilu,” harapnya.
Selain makanan-minuman, industri rokok juga diperkirakan ikut menikmati gurihnya pesta demokrasi. Dimas Andrianto, Analis Asjaya Indosurya Securities, menilai kinerja perusahaan rokok akan terdorong karena kampanye.
“Jelang Pemilu bisanya ada tren menguat untuk sektor-sektor konsumer seperti rokok. Banyak partai yang melakukan kampanye biasanya bagi-bagi rokok sehingga permintaan naik," kata Dimas.
(hds/DES)










































