Minum Air Naples, Lalu Mati

Fulus di Balik Sampah Beracun (2)

Minum Air Naples, Lalu Mati

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 03 Feb 2014 12:13 WIB
Minum Air Naples, Lalu Mati
Sampah di salah satu sudut kota Naples, Italia. (Foto: Reuters)
Jakarta - Sebuah majalah berita di Italia, L’Espresso, telah mempublikasikan sebuah cover story bertajuk “Drink Naples and Then Die.” Artikel ini mengutip sebuah survei tahun 2008 yang dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, yang berpangkalan di Naples.

Survei kesehatan masyarakat itu mendapati telah terjadi kontaminasi air yang sangat serius di Naples. Laporan itu mendapati kadar yang sangat berisiko tinggi di beberapa daerah dan merekomendasikan agar orang-orang Amerika di sana minum air mineral botolan, makanan dibersihkan dengan baik, dan selalu menggosok gigi.

Kalau personil tentara begitu saja sudah khawatir, begitu pun penduduk Naples. Pada November tahun lalu mereka turun ke jalan. Menyerukan pemerintah untuk memperhatikan masalah sampah yang sudah menahun di kawasan itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untungnya Perdana Menteri Enrico Letta langsung bertindak. Dia menyetujui sebuah dekrit yang menambah hukuman penjara bagi mereka yang kedapatan membuang sampah secara ilegal atau membakar sampah sembarangan.

Pada bulan ini, sepasukan tentara Italia juga ditugaskan melakukan patroli anti-sampah di Naples. “Ini sebagai respon atas situasi darurat,” kata Jenderal Sergio Costa, Komandan Militer di Naples. “Politisi di sini sekarang harus merespon karena rakyat sudah turun ke jalan.”

Padahal, masalah sampah terjadi bukan cuma akibat perilaku membuang sampah sembarangan. Di Naples juga ada kelompok mafia Camorra, yang diduga ikut berbisnis sampah. Mereka disebut telah menimbun ribuan ton sampah beracun di wilayah kekuasaan mereka di utara Naples.

Kelompok Camorra diduga terlibat persekongkolan rahasia dengan pabrik-pabrik di Italia yang tak mau keluar duit terlalu besar untuk membuang sampah beracun secara legal. Caranya, mereka 'menitipkan' sampah mereka kepada Camorra, satu dari tiga organisasi mafia terbesar di Italia, .

Camorra kemudian membuang sampah-sampah itu di wilayah yang mereka kuasai di dekat Naples atau di sekeliling wilayah Campania, tempat dari mana Camorra berasal. Mereka memastikan pihak-pihak berwajib tutup mulut karena pengaruh mereka menembus banyak kalangan, khususnya di kota kecil seperti Casal di Principe.

“Mafia meraup banyak duit dari sampah itu,” kata Ciro Tufano, 44 tahun, seorang akuntan yang selama dua dekade terakhir terus meminta pemerintah membersihkan racun-racun dekat rumahnya. Dia bilang sampah selalu dibuang pada malam hari oleh anggota mafia yang berpakaian polisi, secara diam-diam.
 
Michele Buonomo, Presiden Legambiente Campania, organisasi pembela lingkungan, mengatakan mafia Camorra menguasai bisnis sampah itu sejak 1994. Dia memperkirakan, bisnis sampah itu telah memberikan penghasilan sebesar US$ 8,8 miliar per tahun bagi kelompok mafia tersebut.

Sampah adalah emas bagi Camorra, tapi tidak bagi masyarakat. Sejumlah studi mendapati kadar pencemaran lingkungan di Naples begitu tingginya sehingga persentase korban pengakit hati, pankreas, sampai kanker, terus meningkat di wilayah berpenduduk sekitar 500 ribu orang itu.

Seperti yang diceritakan Pendeta Giannino Pasquale dari kota Marigliano, yang mengatakan sejumlah jemaatnya menderita kanker. Tahun lalu, menurut catatannya, ada 27 jemaat yang wafat dan 10 di antaranya gara-gara kanker. Dia bilang, salah seorang pengerja di gerejanya wafat karena kanker pankreas pada 2012, tiga tahun setelah kematian istrinya, yang juga wafat karena kanker.
 
Luigi Sodano, 57 tahun, adalah seorang jemaat Pendeta Pasquale yang juga menjadi korban kanker pankreas. Dia sudah kehilangan banyak bobot tubuhnya. Ibunya pun terkena kanker. Begitu juga keponakan dan istri keponakannya.

Dampak racun itu juga dirasakan petani setempat yang mengatakan harga komoditas dari kawasan itu anjlok gara-gara tak ada yang mau membeli hasil pertanian mereka. Produk keju mozarella yang terkenal di sana juga mulai diragukan konsumen.
 
Jenderal Costa mengatakan Camorra sudah tak lagi membuang sampah beracun di sana sejak beberapa tahun terakhir. Tapi mereka mengirimkan sampah-sampah itu ke Eropa Timur atau Balkan, juga secara ilegal.
 
Beberapa waktu lalu, pihak berwajib telah membongkar timbunan sampah beracun di daerah Prato, 17 kilometer di utara Florence, ibukota Tuscany. Di kawasan ini kaum Camorra rupanya bekerja sama dengan mafia dari China, rekanan mereka yang sebelumnya berbisnis pakaian tiruan. Di Prato banyak berdiri pabrik garmen kepunyaan orang China.

Fulus di Balik Sampah Beracun (2)

 

Minum Air Naples, Lalu Mati

 

Sebuah majalah berita di Italia, L’Espresso, telah mempublikasikan sebuah cover story bertajuk “Drink Naples and Then Die.” Artikel ini mengutip sebuah survei tahun 2008 yang dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, yang berpangkalan di Naples.

 

Survei kesehatan masyarakat itu mendapati telah terjadi kontaminasi air yang sangat serius di Naples. Laporan itu mendapati kadar yang sangat berisiko tinggi di beberapa daerah dan merekomendasikan agar orang-orang Amerika di sana minum air mineral botolan, makanan dibersihkan dengan baik, dan selalu menggosok gigi.

 

Kalau personil tentara begitu saja sudah khawatir, begitu pun penduduk Naples. Pada November tahun lalu mereka turun ke jalan. Menyerukan pemerintah untuk memperhatikan masalah sampah yang sudah menahun di kawasan itu.

 

Untungnya Perdana Menteri Enrico Letta langsung bertindak. Dia menyetujui sebuah dekrit yang menambah hukuman penjara bagi mereka yang kedapatan membuang sampah secara ilegal atau membakar sampah sembarangan.

 

Pada bulan ini, sepasukan tentara Italia juga ditugaskan melakukan patroli anti-sampah di Naples. “Ini sebagai respon atas situasi darurat,” kata Jenderal Sergio Costa, Komandan Daerah Militer Naples. “Politisi di sini sekarang harus merespon karena rakyat sudah turun ke jalan.”

 

Padahal, masalah sampah terjadi bukan cuma akibat perilaku membuang sampah sembarangan. Di Naples juga ada kelompok mafia Camorra, yang diduga ikut berbisnis sampah. Mereka disebut telah menimbun ribuan ton sampah beracun di wilayah kekuasaan mereka di utara Naples.

 

Kelompok Camorra diduga terlibat persekongkolan rahasia dengan pabrik-pabrik di Italia yang tak mau keluar duit terlalu besar untuk membuang sampah beracun secara legal. Caranya, mereka 'menitipkan' sampah mereka kepada Camorra, satu dari tiga organisasi mafia terbesar di Italia, .

 

Camorra kemudian membuang sampah-sampah itu di wilayah yang mereka kuasai di dekat Naples atau di sekeliling wilayah Campania, tempat dari mana Camorra berasal. Mereka memastikan pihak-pihak berwajib tutup mulut karena pengaruh mereka menembus banyak kalangan, khususnya di kota kecil seperti Casal di Principe.

 

“Mafia meraup banyak duit dari sampah itu,” kata Ciro Tufano, 44 tahun, seorang akuntan yang selama dua dekade terakhir terus meminta pemerintah membersihkan racun-racun dekat rumahnya. Dia bilang sampah selalu dibuang pada malam hari oleh anggota mafia yang berpakaian polisi, secara diam-diam.

 

Michele Buonomo, Presiden Legambiente Campania, organisasi pembela lingkungan, mengatakan mafia Camorra menguasai bisnis sampah itu sejak 1994. Dia memperkirakan, bisnis sampah itu telah memberikan penghasilan sebesar US$ 8,8 miliar per tahun bagi kelompok mafia tersebut.

 

Sampah adalah emas bagi Camorra, tapi tidak bagi masyarakat. Sejumlah studi mendapati kadar pencemaran lingkungan di Naples begitu tingginya sehingga persentase korban pengakit hati, pankreas, sampai kanker, terus meningkat di wilayah berpenduduk sekitar 500 ribu orang itu.

 

Seperti yang diceritakan Pendeta Giannino Pasquale dari kota Marigliano, yang mengatakan sejumlah jemaatnya menderita kanker. Tahun lalu, menurut catatannya, ada 27 jemaat yang wafat dan 10 di antaranya gara-gara kanker. Dia bilang, salah seorang pengerja di gerejanya wafat karena kanker pankreas pada 2012, tiga tahun setelah kematian istrinya, yang juga wafat karena kanker.

 

Luigi Sodano, 57 tahun, adalah seorang jemaat Pendeta Pasquale yang juga menjadi korban kanker pankreas. Dia sudah kehilangan banyak bobot tubuhnya. Ibunya pun terkena kanker. Begitu juga keponakan dan istri keponakannya.

 

Dampak racun itu juga dirasakan petani setempat yang mengatakan harga komoditas dari kawasan itu anjlok gara-gara tak ada yang mau membeli hasil pertanian mereka. Produk keju mozarella yang terkenal di sana juga mulai diragukan konsumen.

 

Jenderal Costa mengatakan Camorra sudah tak lagi membuang sampah beracun di sana sejak beberapa tahun terakhir. Tapi mereka mengirimkan sampah-sampah itu ke Eropa Timur atau Balkan, juga secara ilegal.

 

Beberapa waktu lalu, pihak berwajib telah membongkar timbunan sampah beracun di daerah Prato, 17 kilometer di utara Florence, ibukota Tuscany. Di kawasan ini kaum Camorra rupanya bekerja sama dengan mafia dari China, rekanan mereka yang sebelumnya berbisnis pakaian tiruan. Di Prato banyak berdiri pabrik garmen kepunyaan orang China.

 

(DES/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads