Ini Kasus Sampah Beracun yang Fenomenal

Fulus di Balik Sampah Beracun (5)

Ini Kasus Sampah Beracun yang Fenomenal

- detikFinance
Senin, 03 Feb 2014 17:18 WIB
Ini Kasus Sampah Beracun yang Fenomenal
Jakarta - Sampah bukan hanya jadi soal. Sampah ini juga bisa menjadi sumber pendapatan. Mulai dari kelompok pemulung sampai mafia dan pembajak kapal ikut berebut fulus yang bisa diraup dari sampah-sampah itu.

Tapi sampah beracun jelas menyimpan bahaya besar. Mulai dari kerusakan lingkungan sampai terpapar ke manusia yang mengancam timbulnya berbagai penyakit. Berikut ini empat kisah sampah beracun yang fenomenal dari berbagai belahan dunia:

Tambang Emas Mafia Italia

Aktivis pembela lingkungan di Italia menyebutkan, mafia Italia yang terkenal, Camorra, sudah berbisnis sampah beracun sejak 1990. Mereka menerima order pembuangan sampah dari berbagai perusahaan di Eropa dan membuangnya di lahan milik sendiri di utara Naples.

Kalau dihitung-hitung, menurut aktivis itu, total sudah ada 10 juta ton sampah beracun yang dipendam oleh mafia itu di tanah mereka. Ketika hal ini jadi sorotan, kini Camorra membuang sampah itu ke luar Naples. Saban tahun Camorra meraup sekitar US$ 8,8 miliar dari bisnis itu.

Camorra dan limbah racun bukan satu-satunya masalah di Naples. Di banyak sudut kota sampah menggunung. Ini mengkhawatirkan praktisi kesehatan yang melihat ada trend terjadinya penyakit-penyakit mematikan di daerah itu.

Dr. Alfredo Mazza, seorang kardiolog, telah mendokumentasikan peningkatan kasus kanker lokal di sana pada 2004 dan dipublikasikan di jurnal kedokteran The Lancet dari Inggris.Β Β 

Tambang Emas Mafia Italia

Aktivis pembela lingkungan di Italia menyebutkan, mafia Italia yang terkenal, Camorra, sudah berbisnis sampah beracun sejak 1990. Mereka menerima order pembuangan sampah dari berbagai perusahaan di Eropa dan membuangnya di lahan milik sendiri di utara Naples.

Kalau dihitung-hitung, menurut aktivis itu, total sudah ada 10 juta ton sampah beracun yang dipendam oleh mafia itu di tanah mereka. Ketika hal ini jadi sorotan, kini Camorra membuang sampah itu ke luar Naples. Saban tahun Camorra meraup sekitar US$ 8,8 miliar dari bisnis itu.

Camorra dan limbah racun bukan satu-satunya masalah di Naples. Di banyak sudut kota sampah menggunung. Ini mengkhawatirkan praktisi kesehatan yang melihat ada trend terjadinya penyakit-penyakit mematikan di daerah itu.

Dr. Alfredo Mazza, seorang kardiolog, telah mendokumentasikan peningkatan kasus kanker lokal di sana pada 2004 dan dipublikasikan di jurnal kedokteran The Lancet dari Inggris.Β Β 

Limbah Racun, Motif Baru Pembajakan Somalia

Ombak tsunami yang menghantam pantai timur Afrika pada Desember 2005 telah menguak skandal besar. Ribuan ton sampah radioaktif dan zat kimia beracun bermunculan dari tepi pantai Somalia. Ribuan orang Somalia pun terkena penyakit setelah terpapar limbah itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian melakukan penyelidikan. Terungkap pada sejak awal 1990-an banyak perusahaan Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, bekerjasama soal pembuangan sampah dengan politisi dan pemimpin milisi Somalia.

Nilai yang harus dibayar perusahaan-perusahaan itu sangat murah, hanya 1,7 poundsterling per ton. Padahal di Eropa, untuk pembuangan sampah perusahaan harus merogoh kocek sebesar 670 pounsterling per ton.Β 

Berbagai sampah dibuang di sana. Mulai sampah radioaktif dan logam berat seperti kadmium dan merkuri. Termasuk juga sampah industri, rumah sakit, dan bahan kimia lainnya. Masalahnya, penyelidikan terhadap kasus itu kemudian berhenti.Β 

Warga Somalia yang merasa dirugikan pun marah. Konon, inilah yang membuat lahirnya kelompok-kelompok pembajak di Somalia. Mereka membajak berbagai macam kapal untuk meminta tebusan, yang kabarnya duitnya bakal dipakai membersihkan lingkungan. Tapi tak ada yang bisa memverifikasi kebenaran klaim para pembajak itu.

Limbah Racun, Motif Baru Pembajakan Somalia

Ombak tsunami yang menghantam pantai timur Afrika pada Desember 2005 telah menguak skandal besar. Ribuan ton sampah radioaktif dan zat kimia beracun bermunculan dari tepi pantai Somalia. Ribuan orang Somalia pun terkena penyakit setelah terpapar limbah itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian melakukan penyelidikan. Terungkap pada sejak awal 1990-an banyak perusahaan Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, bekerjasama soal pembuangan sampah dengan politisi dan pemimpin milisi Somalia.

Nilai yang harus dibayar perusahaan-perusahaan itu sangat murah, hanya 1,7 poundsterling per ton. Padahal di Eropa, untuk pembuangan sampah perusahaan harus merogoh kocek sebesar 670 pounsterling per ton.Β 

Berbagai sampah dibuang di sana. Mulai sampah radioaktif dan logam berat seperti kadmium dan merkuri. Termasuk juga sampah industri, rumah sakit, dan bahan kimia lainnya. Masalahnya, penyelidikan terhadap kasus itu kemudian berhenti.Β 

Warga Somalia yang merasa dirugikan pun marah. Konon, inilah yang membuat lahirnya kelompok-kelompok pembajak di Somalia. Mereka membajak berbagai macam kapal untuk meminta tebusan, yang kabarnya duitnya bakal dipakai membersihkan lingkungan. Tapi tak ada yang bisa memverifikasi kebenaran klaim para pembajak itu.

Tragedi Gas Mematikan di Pantai Gading

Kapal Probo Koala, yang disewa Trafigura Beheer BV, perusahaan pengapalan komoditas asal Belanda, membuang lebih dari 500 ton sampah beracun di Abidjan di Pantai Gading.

Kontraktor lokal menurunkan sampah itu di 12 titik. Tapi terjadi kebocoran, sehingga gas zat kimia beracun itu terlepas ke sekitarnya. Diduga kecelakaan itu menewaskan 17 orang dan melukai 30 ribu orang.

Kasus ini bermula pada 2002, saat perusahaan Meksiko, Pemex, kelebihan alat pemurni minyak dan menjualnya kepada Trafigura. Perusahaan ini lalu memakai alat itu untuk memisahkan kandungan sulfur dalam bahan bakar bekas untuk menghasilkan naphtha, yang bisa dijadikan duit.

Alih-alih melakukan proses pemurnian di pabrik, perusahaan itu memilih cara 'mencuci' bahan bakar sisa dengan semacam soda. Dengan cara ini, Trafigura bisa meraup laba sampai US$ 19 juta. Tapi limbahnya adalah zat beracun seperti sodium hidroksida, sodium sulfida, dan phenol.
Β 
Akibat kasus ini, sejumlah eksekutif Trafigura ditangkap dan perusahaan itu dipaksa membayar kompensasi kepada pemerintah Pantai Gading. Pada 2008, tuntutan hukum oleh lebih dari 30 ribu orang Pantai Gading korban kebocoran sampah beracun itu digelar di London.

Tragedi Gas Mematikan di Pantai Gading

Kapal Probo Koala, yang disewa Trafigura Beheer BV, perusahaan pengapalan komoditas asal Belanda, membuang lebih dari 500 ton sampah beracun di Abidjan di Pantai Gading.

Kontraktor lokal menurunkan sampah itu di 12 titik. Tapi terjadi kebocoran, sehingga gas zat kimia beracun itu terlepas ke sekitarnya. Diduga kecelakaan itu menewaskan 17 orang dan melukai 30 ribu orang.

Kasus ini bermula pada 2002, saat perusahaan Meksiko, Pemex, kelebihan alat pemurni minyak dan menjualnya kepada Trafigura. Perusahaan ini lalu memakai alat itu untuk memisahkan kandungan sulfur dalam bahan bakar bekas untuk menghasilkan naphtha, yang bisa dijadikan duit.

Alih-alih melakukan proses pemurnian di pabrik, perusahaan itu memilih cara 'mencuci' bahan bakar sisa dengan semacam soda. Dengan cara ini, Trafigura bisa meraup laba sampai US$ 19 juta. Tapi limbahnya adalah zat beracun seperti sodium hidroksida, sodium sulfida, dan phenol.
Β 
Akibat kasus ini, sejumlah eksekutif Trafigura ditangkap dan perusahaan itu dipaksa membayar kompensasi kepada pemerintah Pantai Gading. Pada 2008, tuntutan hukum oleh lebih dari 30 ribu orang Pantai Gading korban kebocoran sampah beracun itu digelar di London.

Racun dan Polusi Udara di China

Kantor Berita Der Spiegel dari Jerman menjuluki China sebagai pusat pabrik di dunia. Tapi media asal Jerman ini juga punya julukan lain: tempat pembuangan sampah beracun skala dunia. Pertumbuhan ekonomi yang baik ternyata memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Lima dari 10 kota paling tinggi kadar polusi udaranya adalah di China. Kini lebih dari duapertiga sungai di sana telah tercemar dan 360 juta penduduk kehilangan akses ke sumber air bersih. Contohnya di Kota Harbin.

Ratusan warga saban pagi mengantri air bersih dengan jatah 5 liter per orang. Air bersih sangat berharga dan penggunaannya harus sehemat mungkin. Air bersih pertama digunakan untuk membersihkan sayuran. Kemudian baru untuk mencuci tangan. Setelah itu, barulah air dipakai untuk menyiram toilet. Tak boleh ada air yang terbuang sia-sia.
Β 
Krisis di Harbin terjadi sejak ledakan di sebuah pabrik kimia di Jilin yang menyebabkan kebocoran 100 ton bahan kimia beracun ke Sungai Songhua.
Β 
Di bagian China yang lain, sebanyak 400 ribu bayi prematur tewas saat dilahirkan setiap tahun akibat tingginya polusi udara. Pakar memperhitungkan China kehilangan 8-15 persen dari gross domestic product atau setara dengan US$ 250 miliar per tahun, akibat dampak polusi udara itu.

Racun dan Polusi Udara di China

Kantor Berita Der Spiegel dari Jerman menjuluki China sebagai pusat pabrik di dunia. Tapi media asal Jerman ini juga punya julukan lain: tempat pembuangan sampah beracun skala dunia. Pertumbuhan ekonomi yang baik ternyata memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Lima dari 10 kota paling tinggi kadar polusi udaranya adalah di China. Kini lebih dari duapertiga sungai di sana telah tercemar dan 360 juta penduduk kehilangan akses ke sumber air bersih. Contohnya di Kota Harbin.

Ratusan warga saban pagi mengantri air bersih dengan jatah 5 liter per orang. Air bersih sangat berharga dan penggunaannya harus sehemat mungkin. Air bersih pertama digunakan untuk membersihkan sayuran. Kemudian baru untuk mencuci tangan. Setelah itu, barulah air dipakai untuk menyiram toilet. Tak boleh ada air yang terbuang sia-sia.
Β 
Krisis di Harbin terjadi sejak ledakan di sebuah pabrik kimia di Jilin yang menyebabkan kebocoran 100 ton bahan kimia beracun ke Sungai Songhua.
Β 
Di bagian China yang lain, sebanyak 400 ribu bayi prematur tewas saat dilahirkan setiap tahun akibat tingginya polusi udara. Pakar memperhitungkan China kehilangan 8-15 persen dari gross domestic product atau setara dengan US$ 250 miliar per tahun, akibat dampak polusi udara itu.
Halaman 2 dari 10
(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads