Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, kondisi naiknya kemiskinan ini karena harga makanan yang melonjak, akibat pembatasan impor sejumlah komoditas pangan. Makanan adalah komoditas yang paling sensitif untuk orang miskin.
"Angka kemiskinan itu kelihatannya naiknya di periode September. Itu naiknya sekitar 0,1%. Itu yang paling sensitif (karena) harga makanan," kata Chatib di kantornya, Jakarta, Rabu (5/2/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa karena kalau orang miskin dia tidak akan konsumsi di luar makanan. Bahkan untuk makanan pun nggak akan cukup. Dia nggak akan beli gadget, nggak akan beli BBM, dia kalau naik mobil pakai transportasi publik. Porsi terbesar adalah harga makanan," jelasnya
"Maka kita buat kebijakan waktu itu kuota (impor) dihilangkan. Apa? Daging naik, cabai naik, inflasi pangannya masih relatif tinggi pada September. Makanya dibuat kebijakan untuk menghilangkan kuota. Baru kemudian harga makanan mengalami penurunan," ungkapnya.
Chatib berharap dalam laporan kemiskinan baru yang akan dirilis Maret mendatang, angka kemiskinan akan turun. Pasalnya harga makanan, khususnya bahan pangan sudah dijaga pasokannya untuk tidak menyebabkan kenaikan harga.
"Nah dengan slow down kayak begini, harga makanan makin turun, mudah-mudahan bulan Maret nanti tingkat kemiskinan bisa turun, karena orang miskin paling sensitif pada harga," sebut Chatib.
(mkj/dnl)










































