Namanya adalah David Agustinus Teak. Dia lebih akrab disapa Opa David. David merupakan salah satu penggiat paralayang dari generasi awal. Sampai sekarang laki-laki berusia 57 tahun ini belum bosan dengan hobinya tersebut.
David memang akrab dengan kegiatan di alam terbuka. Dari sinilah lahir kecintaannya terhadap paralayang.
“Pada 1987, saya ikut ekspedisi internasional di Pulau Seram. Kami naik ke pegunungan selama tiga hari,” kenang David.
Ketika sampai di puncak gunung, salah seorang peserta ekspedisi asal Inggris tiba-tiba saja mengeluarkan alat-alat paralayang. “Kemudian dia terjun begitu saja. Naik gunung tiga hari, tetapi dia begitu asyiknya terjun dan sampai di bawah dalam waktu setengah jam. Dari kejadian itu saya mendapat inspirasi untuk menekuni paralayang,” paparnya.
Pertama kali David mencoba paralayang adalah di daerah Puncak, Jawa Barat. “Ketika itu perasaan saya senang, bangga, dan tidak ada takut sama sekali,” ujarnya, di Jakarta kemarin. Kini, hampir setiap hari David berparalayang di berbagai daerah.
Suka duka selama berparalayang pernah dialami David. “Saya pernah menabrak warung. Kemudian pada 2010 saya sedang tandem dan mendarat di pohon,” katanya.
Apakah paralayang merupakan hobi yang mahal? Jika semua perlengapan dibeli sendiri, David membenarkan. “Apalagi sekarang rupiah sedang melemah. Peralatan paralayang lengkap mungkin bisa seharga Rp 28-30 juta, memang agak mahal,” ucapnya.
Namun, biaya mahal tersebut bisa diatasi jika bergabung dengan komunitas atau klub. “Akan jauh lebih murah, karena kita bisa meminjam sarana yang dimiliki klub. Tinggal membayar iuran saja,” tutur David.
Menurut David, paralayang di Indonesia akan semakin berkembang seiring tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas ini. Namun dia menyayangkan kurangnya dukungan pemerintah dalam pengembangan paralayang.
Soal prestasi, paralayang sudah kerap kali mengharumkan nama Indonesia. Contohnya di Asian Beach Games 2008, di mana kontingen paralayang Indonesia menyabet 7 medali emas dari 8 nomor yang dipertandingkan. Atlet Indonesia juga sering menyandang gelar juara dunia kecepatan mendarat di berbagai kejuaran paralayang internasional.
“Pemerintah hanya memberikan support dalam multi event, tetapi di single event khusus paralayang kami survive sendirian. Bahkan atlet berangkat ke kejuaraan dunia paralayang dengan dana sendiri,” tegas David.
Oleh karena itu, David berharap pemerintah lebih membuka mata dan mendukung perkembangan paralayang di Indonesia. “Saya bukan menjelek-jelekkan olahraga dirgantara lain, tetapi faktanya yang paling banyak menyumbang prestasi bagi Indonesia adalah paralayang,” tukasnya.
(hds/DES)











































