Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan sektor industri yang seperti itu memiliki konstribusi yang rendah terhadap pertumbuhan. Harusnya industri yang dikembangkan adalah yang berbasis teknologi dan memiliki nilai tambah.
"Lihat angkatan kerja kita, profilnya itu sekitar 50% tenaga kerja itu SD atau bahkan belum lulus SD. Artinya industri pengolahan labour intensive itu masih menjadi kebutuhan kita. Sektor jasa dan informal karena masih menjadi pilihan karena profilnya begitu," ungkapnya di Gedung Bappenas, Jakarta, Jumat (7/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kualitas tenaga kerja itu harus ditingkatkan dengan pelatihan khusus. Untuk melatihnya kan perlu waktu lama. Jadi industri itu dibiarkan tumbuh terus," ujarnya.
Sementara dari sisi lain, dilakukan perubahan secara mendasar dari pendidikan. Seperti dengan pembenahan kurikulum dan menjaga anak sekolah tidak cepat putus sekolah. Agar ada satu generasi pada 15 tahun mendatang dengan produktivitas terbaik.
"Jadi pendidikannya disiapkan dan investasi untuk industri itu kita siapkan sebagai lapangan pekerjaannya nanti. Jadi seimbang. Kalau sekarang dengan banyak lulusan SD diubah jenis industrinya, yang terjadi itu senjang. harusnya bertahap. Sejalan dengan kesiapan tenaga kerja," papar Armida.
Ini tentunya menurut Armida menjadi suatu skenario yang besar dan sistematis. Negara-negara lain pun juga menerapkan hal yang sama. Banyak yang sukses dan akhirnya menjadi negara maju. "Lihat saja seperti China, Korea dan Taiwan," sebutnya.
(mkj/hen)











































