Menteri PU Sebut Pembangunan Perumahan Picu Banjir

Menteri PU Sebut Pembangunan Perumahan Picu Banjir

- detikFinance
Selasa, 11 Feb 2014 17:02 WIB
Menteri PU Sebut Pembangunan Perumahan Picu Banjir
Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto punya pandangan soal penyebab musibah banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesia. Selain cuaca ekstrem, perilaku manusia yang tak peduli dengan lingkungan turut menyumbang banjir.

"Banjir ini akibat perubahan iklim dan itu sudah terjadi sekarang ini. Cuaca ekstrem terjadi sekarang ini. Banjir sekarang terjadi bukan hanya di Jakarta tetapi di seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Juga salju datangnya luar biasa. Ini semua dampak perubahan iklim atau pemanasan global yang diakibatkan ulah manusia juga," katanya dalam rapat kerja dengan komisi V DPR di Gedung DPR Senayan Jakarta, Selasa (11/02/2014).

Kondisi cuaca ekstrem diperparah dengan kondisi lingkungan yang minim resapan air. Air hujan turun tidak dapat ditampung dengan baik di waduk-waduk yang ada karena keterbatasan daya tampung. Sedangkan bagian daratan yang mudah untuk menyerap air hujan seperti rawa kondisinya sudah banyak yang dijadikan perumahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab lain dari banjir adalah banyaknya sampah yang menggangu aliran sungai dan rumah liar yang dibangun di pinggir sungai.

"Karena cuaca ekstrem sehingga air turun luar biasa dan masuk ke badan air tetapi air tidak bisa ditampung dengan baik. Kemudian resapan air sudah berkurang di Indonesia tadinya rawa sekarang menjadi perumahan sehingga kondisi air ini run off ditambah sungainya tambah sempit akibat erosi. Orang buang sampah di kali dan banyak bantaran rumah di pinggir sungai," tuturnya.

Sehingga pembangunan waduk baru tidak cukup untuk mengurangi banjir di Indonesia ke depan. Ia meminta kementerian teknis untuk menanami kembali hutan yang gundul serta melarang petani bercocok tanam di lereng gunung, juga melarang masyarakat untuk membuang sampah dan membangun pemukiman di bantaran sungai.

"Bikin waduk dan embung saja tidak cukup. Hutan yang gundul harus kita danai kembali dan itu sudah ada tugas dari kementerian lain. Kemudian di lereng bukit tidak boleh ditanami sayuran atau pertanian musiman. Ini yang membuat longsor dan erosi yang mengakibatkan sungai menjadi dangkal. Sehingga tidak selesai masalah banjir ini hanya dengan bikin waduk dan embung baru," jelasnya.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads