Nuklir Murah, Tapi Opsi Terakhir Saja

Nuklir Sebagai Sumber Energi (2)

Nuklir Murah, Tapi Opsi Terakhir Saja

- detikFinance
Rabu, 12 Feb 2014 11:31 WIB
Nuklir Murah, Tapi Opsi Terakhir Saja
Aksi aktivis menolak kehadiran nuklir di Indonesia. (Foto: Antara)
Jakarta - Sumber energi nuklir tercipta dari reaksi fisika, sehingga tergolong sebagai energi yang terbarukan. Ini berbeda dengan sumber energi fosil, yang cadangannya terbatas dan suatu saat akan habis dikonsumsi.

Di Indonesia, sumber energi untuk pembangkit listrik masih cukup banyak yang menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara. Saat ini Indonesia memiliki cadangan minyak sekitar 3,6 miliar barel, yang tanpa eksplorasi baru akan habis dalam waktu 11-12 tahun ke depan.

"Cari minyak 1 liter itu susahnya minta ampun,” ujar Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, di Jakarta.

Sementara potensi energi nuklir masih banyak dan belum tergali. “Banyak tambang uranium belum dibuka. Di Kalimantan Barat, Papua, belum dibuka sama sekali," kata Setiyanto, Kepala Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Selain potensinya yang masih banyak, energi nuklir juga lebih murah dibandingkan listrik yang dihasilkan pembangkit lainnya.

Dikutip dari situs resmi Batan, harga listrik hasil Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dihargai 3,7-5 sen dolar Amerika Serikat. Sementara dari gas 5,8-7,2 cen dolar AS, batubara 3,5-5,2 sen dolar AS, angin 7,4 sen dolar AS, dan panas bumi 9 sen dolar AS.

Kemudian, ongkos produksi listrik di PLN juga semakin lama akan semakin turun karena sebagian besar biaya dikeluarkan pada saat pembangunan konstruksi. Ongkos bahan bakar PLTN hanya sekitar 10 persen dari seluruh biaya pembangkitan, sedangkan pembangkit bertenaga batubara dan minyak bisa mencapai 60 persen. Hal ini karena penggunaan bahan bakar PLTN sangat efisien dan harganya cukup stabil, tidak seperti minyak dan batubara.

"Penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa, sementara kita hanya punya total kapasitas pembangkit sekitar 40 gigawatt. Listrik kita baru akan cukup kalau ada PLTN," kata Herman Agustiawan, Anggota Dewan Energi Nasional.

Menurut kajian Batan, teknologi PLTN saat ini bisa mencapai daya listrik hingga 1.600 MWe per unit, hal yang tidak mungkin dimiliki oleh teknologi pembangkit lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar dengan pertumbuhan mencapai 9 persen per tahun, hanya diperlukan membangun beberapa unit PLTN.

Meski punya berbagai keunggulan tersebut, nuklir masih menjadi pilihan terakhir bagi Indonesia. “Kita masih punya banyak energi baru terbarukan lainnya sebelum ke nuklir. Ada panas bumi, air, matahari, angin, gelombang laut, sampah, apalagi sampah kurang banyak apa kita," kata Rida.

(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads