Nuklir Ditolak Karena Dampaknya Mengerikan

Nuklir Sebagai Sumber Energi (3)

Nuklir Ditolak Karena Dampaknya Mengerikan

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 12 Feb 2014 13:58 WIB
Nuklir Ditolak Karena Dampaknya Mengerikan
Foto: Antara
Jakarta - Faktor utama penolakan terhadap penggunaan nuklir adalah keselamatan. Jika reaktor sampai terganggu apalagi bocor, dampaknya memang cukup mengerikan.
 
Contoh yang paling ekstrem mungkin tragedi Chernobyl (Ukraina, saat itu masih menjadi bagian Uni Sovyet) pada April 1986. Ketika itu, terjadi ledakan di pembangkit listrik tenaga nuklir dan melepas partikel-partikel radioaktif ke udara. Wilayah Sovyet bagian barat dan sejumlah negara tetangga merasakan dampaknya.
 
Selain puluhan orang meninggal dunia, warga juga masih menderita akibat berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi genetik. Dampak terhadap manusia, hewan, dan lingkungan akibat tragedi Chernobyl diperkirakan masih akan terjadi sampai 100 tahun mendatang. Bahkan pemerintah Ukraina menyatakan area tersebut tidak aman dihuni manusia sampai setidaknya 20 ribu tahun lagi.
 
Tragedi Chernobyl sudah 28 tahun berlalu dan masih terasa dampaknya. Ada lagi tragedi nuklir yang terjadi belum terlalu lama, yaitu di Jepang pada 2011.
 
Pada Maret 2011, Jepang dilanda tsunami dan gempa bumi yang dahsyat. Tsunami setinggi 15 meter menghempas reaktor nuklir Fukushima dan merusak fasilitas pendingin di tiga reaktornya. Kerusakan ini menyebabkan tiga inti reaktor meleleh dalam tiga hari dan melepaskan partikel-partikel rasioaktif.
 
Sama dengan Chernobyl, tragedi di Fukushima pun memperoleh skala maksimal yaitu tujuh dalam hal bencana nuklir. Perairan di wilayah tersebut tercemar radiasi, yang kemudian menjadi isu dunia. Tidak ada korban jiwa akibat radiasi ini, tetapi lebih dari 100 ribu orang terpaksa dievakuasi dari tempat tinggalnya.
 
Bagaimana dengan Indonesia? Siapkah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)?

Menjelang akhir tahun lalu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengadakan survei tentang pandangan masyarakat terhadap tenaga nuklir. Dari 3.000 responden yang dimintai pendapat, ternyata 76,5 persen di antaranya setuju dengan pengembangan teknologi nuklir di Indonesia.
 
“Hasil jajak pendapat ini akan kami ajukan ke pemerintah untuk masukan kebijakan. Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat," kata Djarot Wisnubroto, Kepala Batan, di Jakarta kemarin.
 
Namun, hasil survey tersebut agak sedikit tricky. "Kecenderungan yang terjadi adalah mayoritas masyarakat setuju dengan PLTN. Namun mereka khawatir bila PLTN tersebut dibangun di wilayahnya," ucap Djarot.
 
Meski demikian, lanjut Djarot, Batan akan berupaya untuk mempertahankan pandangan masyarakat yang positif terhadap pengembangan energi nuklir. “Teknologi nuklir dapat menjadi solusi ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads