BI Sarankan Kenaikan BBM Saat Nilai Tukar Membaik
Jumat, 03 Des 2004 15:42 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM sebaiknya dilakukan pada waktu yang baik, seperti saat nilai tukar dan panen membaik. Selain itu, kenaikan harga BBM harus diimbangi dengan kebijakan lain untuk memperlancar distribusi.Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi Sarwono di Gedung Depkeu, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat, (3/12/2004)."Saya mendorong timing dengan melihat hal-hal misalnya, waktu nilai tukar membaik, panen baik sehingga tidak impor. Kalau semua hal diperhitungkan maka akan membantu. Jadi kenaikan harga BBM dalam negeri harus diimbangi dengan kebijakan lain untuk memperlancar distribusi, paling tidak sembilan bahan pokok," papar Hartadi.Menurut Hartadi, sebenarnya masalah waktu tidak terlalu penting. Yang lebih adalah prosentase kenaikannya karena akan berdampak pada inflasi. Dia mengakui, setiap kenaikan BBM akan berdampak pada inflasi. Namun, apakah BI akan bereaksi meredam inflasi itu masih harus dilihat lagi kondisinya."Karena kita harus membedakan apakah kenaikan itu karena kenaikan harga atau karena memang kenaikan akibat tekanan inflasi," katanya.Dijelaskan Hartadi, inflasi sendiri ada dua macam yang berdasarkan IHK dan inflasi inti yang bisa dikendalikan oleh kebijakan moneter. Khusus untuk inflasi inti, BI menilai sejauh ini kecenderungannya masih cukup baik dan agak turun."Kalau tahun depan kecenderungan inflasi ini masih seperti ini, mungkin kita tidak perlu bereaksi terlalu gegabah, tapi kalau kenaikan BBM menyebabkan kenaikan inflasi inti kita harus bereaksi," katanya.BI sendiri, lanjut dia, mengkhawatirkan kenaikan BBM terhadap inflasi inti terutama terkait dengan ekspektasi mansyarakat bahwa kenaikan BBM akan membuat kenaikan untuk biaya-biaya lainnya."Makanya, perlu dibarengi dengan sosialisasi yang baik. Misalnya, dengan pengalihan subsidi dari minyak untuk sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan lain-lain," katanya.Hartadi optimis, tahun 2005 nanti inflasi akan berada di posisi sesuai target 6,5 persen. Sementara tahun 2004 bisa mencapai 6,3 persen, karena year on year baru mencapai 6,18 persen. "Ini dengan asumsi inflasi Desember tidak jauh berbeda dengan November," kata dia.
(umi/)











































