Kerugian ditaksir mencapai Rp 134 miliar lebih. Kerusakan terparah berada di wilayah Ngantang, lahan pertanian seluas 772 ribu hektar rusak.
"Ada 25 komoditi, termasuk sayuran, apel, hortikulturan dan buah-buahan. Kerugian Rp 134 miliar itu menyebar di tiga kecamatan yakni Pujon, Ngantang, dan Kasembon," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang Tomie Herawanto kepada detikFinance, Senin (17/2/2014).
Dia mengungkapkan, penghitungan kerugian ini dimulai dari sejak masa tanam dikalikan luas lahan pertanian dan pemulihan dibutuhkan waktu berbulan-bulan nantinya.
"Bisa sampai 4 sampai 5 bulan pemulihan pertanian yang rusak ini," ungkapnya.
Pihaknya tak menutup kemungkinan jumlah kerugian akan berubah. Seiring dengan perubahan luas lahan yang rusak. "Mudah-mudahan dengan hujan terjadi kemarin, sedikit membantu mengatasi tumpukkan abu vulkanik pada tanaman," harapnya.
Berikut komiditi rusak akibat abu vulkanik di Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Kasembon : Padi seluas 1.395 hektare, jagung 2.053 hektare, wortel 48 hektare, bawang daun seluas 214 hektare, brokoli 59 hektare, kacang panjang 129 hektare dengan kerugian Rp 50 miliar lebih.
Untuk sayuran : kentang 83 hektare, kubis 125 hektare, bawang merah 185 hektare, tomat 175 hektare, sawi 45 hektare, apel 158 hektare dengan kerugian Rp 36 miliar lebih.
Sementara jeruk 9.055 pohon rusak, cabe rawit 614 hektare, cabe besar 232 hektare, durian 176 pohon, apokat 45 pohon, belimbing 518 pohon dengan kerugian mencapai Rp 28 miliar lebih.
Disusul rusaknya 79.660 pohon mangga, 11.875 pohon nangka, 220 hektare kelapa, 810 hektare kopi, 217 hektare kakao, dan 573 hektare tebu dengan kerugian mencapai Rp 19, 7 miliar.
Sementara populasi ternak di wilayah Ngantang sebanyak 14 ribu ekor dan 10 ribu ekor terkena dampak letusan Gunung Kelud. Sedangkan di Kecamatan Kasembon sebanyak 5 ribu ekor, dua ribu ekor terdampak bencana. Untuk di Kecamatan Pujon jumlah sapi 22 ribu ekor.
(dru/dru)











































