Dapat Air Gratis, Petani di Indonesia Lebih Boros daripada AS

Dapat Air Gratis, Petani di Indonesia Lebih Boros daripada AS

Wiji Nurhayat - detikFinance
Selasa, 18 Feb 2014 17:38 WIB
Dapat Air Gratis, Petani di Indonesia Lebih Boros daripada AS
Jakarta - Sebanyak 80% dari total produksi air di Indonesia setiap tahun atau 3,9 triliun meter kubik digunakan untuk sektor pertanian. Namun para petani di Indonesia lebih boros air daripada petani di negara maju.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan mengungkapkan salah satu penyebab banyaknya kebutuhan air di sektor pertanian adalah sikap boros dari para petani.

"Kita itu belum punya gerakan nasional untuk menghemat air termasuk oleh petani. Petani kita penggunaan airnya boros padahal kebutuhan air di sektor pertanian cukup besar dan paling besar setelah konsumsi rumah tangga. Harus berhemat petani kita gunakan air. Kita masih belum dan tidak merasakan sesuatu ketika air akan menjadi masalah besar di Indonesia nantinya," kata Rusman saat ditemui di Hotel Four Seasons Kawasan Kuningan Jakarta, Selasa (18/02/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa penggunaan air di sektor pertanian cukup besar? Menurut Rusman salah satu pemicunya adalah air masih dianggap barang bebas yang didapat dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya. Padahal di Amerika Serikat (AS), petani harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli air agar bisa mengairi lahan pertanian mereka.

"Di Amerika Serikat sana manajemen air sudah dipegang oleh swasta, petani saja suruh bayar untuk mendapatkan air. Kalau kita masih free, dan air ini masih dianggap barang publik yang bebas. Sehingga tingkah kita semena-mena. Kita ini harus ubah sikap kita untuk menghemat air," imbuhnya.

Pemerintah Indonesia tidak punya kebijakan yang sama soal air seperti yang dilakukan AS kepada petaninya. Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah para petani diminta berhemat untuk menggunakan air.

"Tidak bisa kebijakan serupa dilakukan di kita. Jadi intinya bagaimana me-manage air sedemikian mungkin. Kalau banjir, lahan pertanian kita kebanjiran, kalau kering kita kekeringan. Ini masalah budaya dan masih dianggap barang public bukan komersial. Coba kalau listrik, kita bisa hematkan," cetusnya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads