Ketua Dewan Sawit Indonesia Derom Bangun mengatakan produk sawit Malaysia lebih dikenal pengusaha Turki daripada CPO Indonesia. Penyebabnya Malaysia mengekspor produk sawit tidak hanya CPO tetapi produk hilir sawit lainnya.
"Produksi sawit Indonesia terus meningkat sejak tahun 2006 dan lebih besar dari Malaysia. Namun kita ekspor ke Turki lebih terbatas ke produk crude oil. Itulah sebabnya banyak pengusaha di Turki lebih mengenal produk Malaysia karena Malaysia sudah lebih dahulu masuk ke produk hilirnya," kata Derom dalam Forum Bisnis Pelaku Usaha Palm Oil dengan Delegasi KBRI Ankara, Turki di Ruang Pola Gedung A Kantor Pusat Kementerian Pertanian di Ragunan Jakarta, Rabu (19/02/2014).
Hadir dalam acara ini Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementan Emilia Harahap dan rombongan delegasi Turki yang terdiri dari duta besar Turki untuk Indonesia, duta besar Indonesia untuk Turki dan investor.
Derom menegaskan kondisi Indonesia sekarang jauh berbeda, karena sudah bisa memproduksi sawit hingga produk hilir tidak sekedar crude oil.
"Tetap dalam beberapa tahun ini, pemerintah Indonesia sudah menggenjot sektor sawit sampai ke hilir," imbuhnya.
Sejumlah perusahaan lokal yang sudah melakukan hilirisasi produk sawit di Indonesia seperti Wilmar dan Musimas. Ia juga mengungkapkan tidak menutup peluang para investor Turki berinvestasi membangun pabrik olahan sawit di Indonesia.
Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementan Emilia Harahap mengungkapkan tujuan pertemuan ini untuk mempromosikan produk sawit Indonesia ke Turki. Selain itu, Turki bisa dijadikan hub agar produk sawit Indonesia bisa masuk lebih mudah ke negara lain sekitar Turki.
"Kita harapkan negara Turki bisa menjadi tujuan pasar ekspor CPO Indonesia dan melalui Turki kita bisa kembangkan pasar ke negara lain," ungkap Emilia.
Pemerintah Indonesia berencana mendirikan kantor perwakilan sawit Indonesia di Turki. Harapannya para investor terutama importir dapat dengan mudah mencari informasi tentang prosedur impor dan relasi dengan perusahaan sawit Indonesia.
"Pihak kita mengajak akan membuka kantor perwakilan CPO ini di Turki. Cara ini dilakukan untuk ekspansi pasar dan kita berharap bisa segera merealisasikan ini," katanya.
Data Kementerian Pertanian di tahun 2013 menyebut, produksi CPO Indonesia sebanyak 28 juta ton. Sebagian besar atau sebanyak 18 juta ton CPO Indonesia diekspor, sisanya diserap di dalam negeri.
Turki menempati urutan ke-15 pasar ekspor terbesar CPO Indonesia dengan nilai 297.056 ton di tahun 2013. India menempati posisi pertama pasar ekspor CPO Indonesia dengan nilai 4,3 juta ton disusul China dengan nilai 2 juta ton.
Di Turki, produk CPO bersaing ketat dengan minyak bunga matahari, minyak zaitun dan minyak kedelai. Porsi penggunaan ketiga minyak tersebut jauh lebih besar ketimbang CPO.
(wij/hen)











































