Dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/2/2014) Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo mengatakan tempat ini juga bisa sebagai untuk melayani sorting dan grading mutiara yang memenuhi SNI untuk ekspor. Selama ini, kualitas mutiara menjadi penentu harga mutiara di pasar dunia.
Bursa ini juga sebagai pusat informasi, edukasi, dan promosi mutiara ke pasar lokal maupun dunia. Tempat ini juga diharapkan bisa menarik wisatawan ke daerah NTB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sharif mengatakan, mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan sektor kelautan dan perikanan. Prospek bisnis Mutiara sangat menggiurkan karena permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Hingga kini pasar mutiara dunia saat ini didominasi 4 jenis mutiara, antaralain:
- Pertama, Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) dengan negara produsen adalah Indonesia, Australia, Filipina dan Myanmar dengan produksi per tahun sebesar 10-12 ton.
- Kedua, Mutiara Air Tawar (Fresh Water Pearl) dengan negara produsen adalah China dengan produksi per tahun sebesar 1.500 ton.
- Ketiga, Mutiara Akoya (Akoya Pearl) dengan negara produsen adalah Jepang dan China dengan produksi per tahun sebesar 15-20 ton.Β
- Keempat, Mutiara Hitam (Black Pearl) dengan negara produsen adalah Tahiti dengan produksi per tahun sebesar 8-10 ton.
Menurut Sharif sejak 2005, berdasarkan volume Indonesia merupakan produsen Mutiara Laut Selatan terbesar di dunia. Indonesia memasok 43% kebutuhan dunia.
Dari ilai perdagangan, Indonesia menempati urutan ke-9 dunia. Dengan nilai ekspor sebesar US$ 29,4 juta atau 2,07% dari total nilai ekspor mutiara di dunia yang mencapai US$ 1,41 miliar Indonesia berada di bawah Hong Kong, China, Jepang, Australia, Tahiti, USA, Swiss dan Inggris.
"Negara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Baru dan Prancis," katanya.
(hen/dru)










































