Berinvestasi Lewat Sneaker, Sangat Bisa

Gerak-Gerik Pehobi Alas Kaki (4)

Berinvestasi Lewat Sneaker, Sangat Bisa

Hidayat Setiaji - detikFinance
Jumat, 21 Feb 2014 16:10 WIB
Berinvestasi Lewat Sneaker, Sangat Bisa
Foto: dok pribadi
Jakarta - Barang koleksi biasanya bisa menjadi sarana investasi, tidak terkecuali sneaker. Meski kelihatannya hanya sebuah sepatu santai, sneaker ternyata punya nilai investasi yang lumayan.
 
Sneaker memang bisa banget untuk investasi. Saya pernah beli sneaker seharga Rp 1,3 juta dan sekarang sudah tidak ada yang jual. Kalau pun ada, harganya bisa sekitar Rp 6-7 juta,” ucap Raymond Zein, pentolan Indonesia Sneaker Team, di Jakarta, kemarin.
 
Saat ini, lanjut Raymond, sneaker yang dirilis pabrikan Amerika Serikat, New Balance, sedang tren dan bisa menjadi instrumen investasi. “Ini karena sneaker tersebut dipakai oleh salah seorang artis, dan efeknya gila. Sampai fake-nya pun di mana-mana,” katanya.
 
Sneaker keluaran New Balance tersebut, tambah Raymond, aslinya dibanderol dengan harga sekitar Rp 1,6 juta. “Namun sekarang kalau ada orang yang jual dengan harga Rp 4,5 juta masih ada yang mau membeli,” ujarnya.
 
Untuk mengetahui sebuah sneaker punya nilai investasi, seorang kolektor harus cermat melihat kondisi. “Harus bisa membaca apakah sepatu ini dalam 2-3 tahun ke depan populasinya masih banyak atau tidak. Kalau limited edition sudah pasti jumlahnya sedikit dan harganya terus naik,” kata Raymond.
 
Salah satu sneaker yang punya nilai investasi tinggi, menurut Raymond, adalah NYC Pigeon Dunk yang memang hanya diproduksi sekitar 200 pasang. “Itu kenaikannya gila. Sekarang pasti sudah di atas US$ 1.000 (Rp 11,8 juta),” katanya.
 
Yherry Saputro, pemilik My Shoes, berpendapat senada. “Ada beberapa sneaker yang value-nya naik terus. Bahkan ada yang sampai Rp 60 juta,” ucapnya.
 
Kenaikan harga beberapa varian sneaker, menurut Yherry, cukup fantastis. Normalnya, kenaikan harga bisa mencapai Rp 500 ribu-1 juta per tahun. Namun untuk yang berstatus limited edition, kenaikan harganya bisa mencapai Rp 10 juta dalam 3 tahun pertama.
 
Air Jordan, demikian Yherry, merupakan varian yang layak dijadikan sarana investasi. “Terutama yang seri-seri retro karena nilai historisnya tinggi. Kadang orang membelinya bukan karena hobi, tetapi lebih ke investasi,” tuturnya.
 
Namun, Raymond menyesalkan sneaker yang bisa menjadi instrumen investasi melahirkan orang-orang yang hanya mencari untung. Mereka berburu sneaker tanpa ambisi dan kecintaan, melainkan hanya untuk kepentingan bisnis.
 
“Ada orang-orang yang memborong sneaker hanya untuk dijual kembali. Sayang sekali, karena mereka tidak punya passion di sneaker,” tegas Raymond.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads