Hal ini disampaikannya dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah "Penguatan Manajemen, Ekonomi dan UMKM Pondok Pesantren Muhammadiyah" di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (22/02/14), seperti dikutip dari siaran pers.
"Kalau mau sukses bisnis harus menunaikan zakat dan taat pajak," ujar Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ayah saya yang mengajarkan itu, saya dulu selalu ditanyakan apa sudah tunaikan zakat dan bayar pajak," ujar JK yang disambut tepuk tangan peserta.
JK juga menuturkan bahwa berbisnis tidak cukup dengan mempelajarinya di bangku perkuliahan, menghadiri seminar atau belajar dari buku saja, tapi harus praktik dan terus menerus mencoba.
JK mengibaratkan belajar bisnis itu seperti orang belajar berenang. Sepintar apa pun mempelajarinya teorinya tapi kalau tidak praktik langsung berenang di air pasti selalu gagal.
"Belajar bisnis itu seperti orang belajar berenang, kalau tidak praktik langsung sulit bisanya, atau bisa tenggelam nanti," tukasnya.
Pesantren Harus Ajarkan Wirausaha
Pada kesempatan yang sama, JK mengatakan pesantren juga harus menanamkan jiwa entrepreneur pada santri-santrinya.
"Pesantren baiknya menanamkan jiwa entrepreneur pada santrinya," ujar JK di hadapan sekitar 700 peserta yang merupakan perwakilan Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Indonesia.
Ia menambahkan, pesantren bukan hanya mengadakan pengajian sifatnya ukhrowi tapi juga mampu menghadirkan pengajian 'masa depan'.
Pengajian masa depan ini menurut JK salah satunya adalah mengkaji ilmu bisnis. Sehingga pesantren atau lembaga pendidikan Islam harus seimbang antara ilmu agama dan juga ilmu 'dunia'.
"Pengajian masa depan harusnya hadir, mengkaji bisnis, teknologi, bukan hanya mengaji (yang ukhrowi) saja," ujar JK yang mengenakan batik lengan panjang berwarna coklat.
JK mengusulkan pesantren untuk mengundang dan menggandeng pengusaha-pengusaha sukses untuk berbagi pengalaman dan ilmunya kepada santri. Selain itu, pesantren juga ikut menfasilitasi santri untuk mempraktikan ilmu-ilmu bisnis yang sudah dipelajari.
"Undang pengusaha, minta mereka berbagi pengalaman dan motivasi. Beri ruang santri untuk mempraktikannya," ujar JK.
Menurut JK upaya hadirnya 'pengajian masa depan' di pesantren adalah untuk menciptakan generasi Islam yang tangguh dan mampu bersaing sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap bangsanya.
"Ini untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing sehingga ikut memajukan bangsa," ungkap JK.
(ang/wij)











































