Membidik Laba Tinggi dari Kematian Orang

Bisnis Urusan Kematian di China (1)

Membidik Laba Tinggi dari Kematian Orang

- detikFinance
Senin, 24 Feb 2014 10:28 WIB
Membidik Laba Tinggi dari Kematian Orang
Foto: scmp.com
Jakarta - Lahan mahal berbanderol menjulang. Batu granit bernilai miliaran. Juga ada selebritasnya. Ini kemewahan cara China. Tapi kita tidak sedang bicara tentang rumah atau properti. Ini tentang kuburan.

Kuburan dan urusan kematian lainnya sedang tumbuh menjadi industri yang bernilai ekonomi tinggi di China. Pemain di industri pemakaman ini sangat banyak, mulai dari perusahaan keluarga sampai perusahaan besar seperti Fu Shou Yuan di Shanghai, yang bahkan sudah melantai di bursa saham Hong Kong.

Selaku negara dengan populasi terbesar di dunia, China jelas mempunyai angka kematian terbesar juga. Jumlahnya diprediksi akan naik jadi 10,4 juta orang setiap tahun mulai 2017 nanti. Saat ini angka kematian adalah 9,7 juta orang per tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan industri pekuburan atau pemakaman, menurut laporan perusahaan riset Euromonitor, akan bertumbuh 17 persen menjadi US$ 16,4 miliar pada 2017. Ini didorong pertumbuhan bisnis pemakaman kelas elit, seperti yang dilakoni perusahaan seperti Fu Shou.
 
Kultur China untuk urusan pemakaman atau kematian memang bisa bikin kita geleng kepala. Penyelenggaraan upacara kematian secara besar-besaran adalah hal yang lazim.

Upacara besar-besaran seperti itu dilarang oleh Partai Komunis China pada era 1960-1970an. Tapi, setelah China semakin terbuka ke dunia luar, kebiasaan itu tumbuh kembali dan makin mewah. Ada kisah seorang pebisnis yang terkenal pada 2011 lalu. Dia menghabiskan 5 juta yuan lebih untuk upacara kematian ibundanya.

Mengapa urusan kematian di China jadi semakin mahal, sehingga muncul ungkapan “lebih baik hidup lama-lama, karena untuk mati itu sulit”? Siapa saja yang memetik keuntungan dari urusan kematian itu? Simak laporan khusus detikFinance hari ini.

(DES/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads