Jatuhnya harga apel lokal menyebabkan petani besar sekarang mulai beralih ke sektor usaha lain seperti properti dan agrowisata sehingga mulai meninggalkan perkebunan apel.
Hal ini semakin membuat apel Malang tidak mempunyai posisi tawar. Ditambah bencana Gunung Kelud di satu sisi menyebabkan petani lebih sulit memasarkan produknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diserbu Apel Impor, Harga Apel Malang Anjlok
|
|
Menurut seorang petani Apel Malang, Neneng mengatakan banyaknya peredaran buah impor asal China di Kota Malang membuat harga buah lokal jatuh. Sehingga banyak petani buah yang mulai meninggalkan lahan perkebunan apelnya
"Banyak rekan-rekan saya yang meninggalkan perkebunan apel mereka karena kurang menjanjikan. Harga apel lokal merosot tajam setelah berlimpahnya buah impor," kata Neneng.
Ia menuturkan harga jual buah apel dari petani ke pengepul saat ini hanya berkisar Rp 3.500-4.000/kg dan sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sementara itu sebelumnya harga jual bisa menembus Rp 10.000/kg atau turun 60%.
Lahan Perkebunan Sudah Menyusut Drastis
|
|
Hal ini disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) Ramdansyah di Kantor Kementerian Perdagangan Jalan Ridwan Rais Jakarta, Senin (24/02/2014).
Menurutnya perlindungan pemerintah tidak dirasakan oleh para petani buah yang menjadi ikon Kota Batu, Malang. Ia juga mengatakan ada sejumlah persoalan yang dialami oleh petani Apel Malang.
Ia menuturkan 60%-70% lahan pertanian apel sudah beralih fungsi. Banyak lahan perkebunan apel ada yang beralih menjadi hotel, tempat hiburan (BTS), dibiarkan terlantar atau beralih menjadi perkebunan tebu.
Biaya Produksi 7.000/Kg, Dihargai Rp 4.000/Kg
|
|
"Harga produksi apel per kg itu Rp 6.000-7.000/kg sedangkan harga jualnya dari petani ke pengumpul hanya Rp 2.500 hingga Rp 4.000/kg. Berarti nggak nutup dan petani rugi," ungkap salah satu petani apel skala besar, Neneng saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan Jalan Ridwan Rais Jakarta, Senin (24/02/2014).
Hal ini dipicu karena maraknya peredaran buah apel impor asal China di dalam negeri termasuk di Kota Batu dan Malang. Dampaknya, para petani enggan menanam apel, lebih memilih menjual lahan mereka untuk perkebunan tebu, hotel maupun agrowisata.
Importir Sebut Buah Impor Lebih Berkualitas dari Apel Malang
|
|
"Jadi begini, kalau terkait apel ini buah subtropis yang kualitasnya tergantung dari kondisi iklim. Kualitas apel kita tidak akan bisa menyamai negara subtropis artinya dari segi kualitas apel di negara subtropis jauh lebih unggul," ungkap Ketua Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia Khafid Sirotuddin kepada detikFinance, Senin (24/02/2014).
Sedangkan bila dilihat dari harga, apel lokal jauh lebih murah dibandingkan apel impor. Contohnya apel impor asal China di tingkat pasar ritel dan tradisional dijual dengan harga Rp 30.000-45.000/kg. Sedangkan untuk harga apel Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat berkisar antara Rp 45.000-75.000/kg. Apel lokal atau biasa orang sebut Apel Malang di tingkat pasar hanya dijual Rp 15.000-16.000/kg.
"Jelas buah impor jauh lebih mahal karena ada biaya pengiriman kan," imbuhnya.
Ia mengakui bahwa minat masyarakat kepada buah impor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buah lokal. Meskipun harga lebih tinggi, konsumen tidak ragu membeli apel impor karena melihat kualitas dan bentuk fisiknya yang jauh lebih menarik daripada apel lokal.
"Masalah buah impor ini sebenarnya nggak ada toh totalnya itu hanya 6% dari jumlah kebutuhan buah nasional. Konsumen melihat warnanya, tampilannya dan menarik jadi lebih apa yang dilihat dan mereka mampu membeli," jelasnya.
Tak Hanya Diserbu Apel Impor, Tapi Juga Pestisida Asing
|
|
Salah satu petani apel di Kota Malang, Jawa Timur, Ngaribun mengatakan petani apel saat ini masih harus mengimpor obat-obatan peranian sa satunya insektisida dan pestisida.
"Obat-obatan pertanian itu dari luar, impor kita belinya pakai dolar (AS), sedangkan penghasilan para petani kan pakai rupiah," kata Ngaribun kepada detikFinance, Senin (24/2/2014).
Ngaribun mengatakan, perkebunan apel di Malang mau tidak mau harus menggunakan obat-obatan tersebut. Pasalnya belum ada obat-obatan jenis itu yang diproduksi di Indonesia.
"Itu dari negara China, Jepang, Jerman," kata pria yang sejak kecil menjadi petani apel ini.
Petani Buang Apel Malang di halaman Kementerian Perdagangan
|
|
Selain membawa apel, mereka juga membawa jeruk Malang, kemudian menyebar dan melemparnya ke Kantor Kemendag. Dampaknya Jalan Ridwan Rais dipenuhi dengan ratusan Apel dan Jeruk Malang.
"Kami ingin pemerintah dengar tuntutan kami karena maraknya buah impor di Indonesia. Sebanyak 70% lahan pertanian hortikultura di Malang sudah beralihfungsi menjadi hotel dan tempat hiburan," teriak seorang pendemo.
Kegiatan mereka juga diramaikan dengan aksi membawa keranda mayat yang isinya dipenuhi dengan Apel dan Jeruk Malang yang diletakan di depan Kantor Kemendag.
"Kami minta betul pemerintah melihat nasib petani. Jangan mempermudah buah impor masuk ke Indonesia," jelasnya.
Halaman 2 dari 7











































