Pengamat Transportasi Indonesia dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan, Belanda dahulu sudah menyambungkan Solo Yogyakarta dengan jalur ganda kereta api.
"Kalau Belanda dulu dia bangun double track itu Solo-Yogyakarta. Itu zaman Belanda," kata Djoko kepada detikFinance, Selasa (25/2/2014).
Tak hanya sudah membangun proyek tersebut, Belanda pun telah menyediakan ruang atau lahan untuk kereta double track, agar bisa dibangun dan dikembangkan lebih luas lagi. Namun nyatanya, proyek baru diteruskan beberapa tahun belakangan ini.
"Ruang jalan itu sudah ada, lahannya sudah tersedia. Rata-rata lebar sekali, bahkan sampai 20-25 meter, ada yang lebih," jelas Djoko.
Djoko melanjutkan, lahan sudah tersedia, anggaran pun bukan jadi persoalan saat itu, tapi sayangnya proyek tersebut tidak diteruskan karena pemerintah tidak berpihak pada transportasi kereta api. Hingga akhirnya, lahan-lahan untuk jalur ganda dialihfungsikan oleh warga menjadi permukiman.
"Sekarang mau ditertibkan melawan. Bahkan saking lebarnya, sebagian okupansi dibuat jalan raya oleh PU. Contonhnya antara Semarang sampai Rembang 2 lajur ngambil jalan kereta api," terangnya.
Djoko mengatakan, dulu saat zaman Belanda, transportasi kereta api bisa dikatakan menjadi perhatian. Tak sedikit pergerakan arus barang bahkan hewan diangkut menggunakan kereta api. Karena dianggap lebih efisien dan aman.
"Sekarang pemerintah kita tidak pro pada angkutan kereta api.(Dulu) Sampai hewan pun diangkut pakai kereta. Sekarang itu nggak ada," tutup Djoko.
Dihubungi terpisah, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, membenarkan jalur ganda sudah ada sejak jaman Belanda. Tapi belum difungsikan sebagai double track.
"Kalau jalurnya iya, tapi kalau double tracknya saya ragu. Saya belum pernah lihat dokumen yang menyatakan itu, rasanya tidak ada karena Zaman Belanda utamanya jalur-jalur KA itu fokus untuk eksploitasi sumber daya alam," kata Bambang.
(zul/ang)











































