Mari akan Pertahankan Tingkat Pertumbuhan Ekspor 15 Persen
Senin, 06 Des 2004 14:45 WIB
Jakarta -
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menegaskan pihaknya akan mempertahankan tingkat pertumbuhan ekspor sebesar 15 persen seperti yang terjadi Januari-Oktober 2004. Namun Marie mengaku tidak bisa memperkirakan berapa persentase pertumbuhan ekspor yang bisa dicapai tahun depan dengan alasan tergantung kondisi eksternal, terutama dari sisi demand.Mari mengungkapkan hal tersebut di Gedung Danapala, Depkeu, Jakarta, Senin (6/12/2004)."Memang saat ini total ekspor pertumbuhannya telah mencapai 15 persen, baik migas maupun non-migas. Sayangnya itu bukan karena kinerja saya. Saya rasa baru kerja 43 hari, tidak bisa mengklaim itu hasil kerja saya. Tapi ini adalah momentum yang harus kita gunakan agar tahun depan dimana saya akan bekerja sepanjang tahun dan kinerja saya akan diukur berdasarkan pertumbuhan ekspor tahun depan, minimal bisa mendekati angka itu," kata Mari.Dia mengakui tingginya pertumbuhan ekspor saat ini terutama disebabkan permintaan pasar dari luar negeri yang cukup baik. Untuk itu, lanjut Mari, pihaknya tidak bisa memprediksi berapa persentase pertumbuhan ekspor yang bisa dicapai tahun depan karena tergantung kondisi eksternal."Tahun 2005, kita ingin tetap tinggi. Tapi semua tergantung kondisi eksternal, apakah eksternal demandnya lebih baik atau tidak dari tahun ini. Untuk prospek Amerika Serikat memang cukup baik, tapi untuk Cina agak menurun. Tahun ini pertumbuhan ekspornya tetap diatas 9 persen meski Cina sudah melakukan upaya slowdown," katanya.Sementara untuk Jepang, Mari mengaku belum tahu padahal market Indonesia sangat tergantung dari Jepang, Amerika dan Eropa. "Jadi tahun depan sulit bagi saya memprediksi pertumbuhan ekspor karena harus ada masukan dari kalangan industri eksportir dan permintaan dari luar negeri. Saya berharap minimal seperti tahun ini meski kita tidak bisa memastikan itu karena ada faktor eksternal tadi," katanya.Pertumbuhan 15 persen bisa dicapai kalau faktor eksternalnya tetap baik seperti sekarang. Pertumbuhan ekspor Indonesia, jelas Mari, tahun-tahun sebelumnya memang tidak sebaik tahun ini dimana rata-rata pertumbuhannya hanya 5 persen. Hal itu terjadi karena 4 faktor. Pertama, laju inflasi yang menyebabkan real effective exchange rate Indonesia kurang kompetitif. Kedua, adanya biaya ekonomi yang tinggi, termasuk unsur pajak. Ketiga, minimnya prasarana. Keempat, tidak ada investasi baru karena buruknya iklim investasi dalam negeri.Untuk itu, Mari berharap semua pihak bisa bekerjasama untuk mencapai pertumbuhan ekspor yang diinginkan. Dari sisi menteri perdagangan sendiri, tantangan utama yang harus dihadapi tahun depan bagaimana bisa mempertahankan tingkat ekspor 15 persen. Dalam hal ini, menurutnya, peran pajak sangat penting karena dari sisi ekspor dan dunia usaha ada dua hal utama yang dikeluhkan, yakni pajak dan pelayanan administrasi Pph. Akibatnya eksportir sering mengeluh karena mempengaruhi neraca keuangan mereka sehingga meningkatkan biaya transaksi produksi."Saya hanya menyampaikan keluhan mereka. Sudah tugas saya memberi tahu apa yang harus dilakukan, tapi saya hanya ingin sampaikan tugas saya meningkatkan ekspor dan bagaimana pengurangan biaya dan perbaikan iklim investasi bisa didukung," katanya.
(nit/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































