Orang Indonesia Masih Doyan Beli Emas Koin dan Batangan

Orang Indonesia Masih Doyan Beli Emas Koin dan Batangan

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Kamis, 27 Feb 2014 07:58 WIB
Orang Indonesia Masih Doyan Beli Emas Koin dan Batangan
Antrian di Butik Emas Antam (Foto: Rista/detikFinance)
Jakarta -

Permintaan emas batangan di Indonesia naik 36% dari 22,1 ton di 2012 menjadi 30 ton. Negara paling banyak borong emas di 2013 adalah China.

WGC (World Gold Council) baru saja merilis laporan Tren Permintaan Emas 2013 pertengahan Februari ini. Laporan ini memberikan perkiraan permintaan emas di berbagai sektor pada tahun 2013.

China menjadi fokus utama pasar emas di 2013. Secara keseluruhan, permintaan emas di China meningkat dari 807 ton di tahun 2012, menjadi 1.066 ton tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Walaupun pertumbuhan ekonomi China diindikasikan melambat tahun lalu dibanding tahun-tahun sebelumnya, penurunan harga emas tahun lalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat China untuk mengkoleksi emas," kata Marketing Manager Logam Mulia Antam Bambang Wijanarko dalam keterangan tertulis yang diterima detikFinance, Kamis (27/2/2014).

Permintaan perhiasan meningkat 29% dan permintaan emas batangan serta koin meningkat 38%. Sementara di India, walaupun dihantam berulang kali kenaikan pajak impor yang memberatkan permintaan emas, secara mengejutkan permintaan emas India tahun lalu tetap meningkat dibanding tahun 2012 dari 864 ton ke 975 ton.

Dampak peraturan pajak impor emas yang sengaja dinaikkan oleh Pemerintah dan Bank Sentral India baru terasa di semester II tahun lalu dimana permintaan pada periode itu anjlok hingga hanya 367 ton dibanding semester I yang mencapai 608 ton.

Emerging market lain seperti Turki dan negara-negara Timur Tengah juga menunjukkan kenaikan permintaan emas yang cukup tinggi dari 297 ton di 2012 menjadi 400 ton tahun lalu.

Indonesia juga tercatat sebagai negara yang mengalami permintaan kenaikan emas pada 2013. Tahun lalu permintaan emas batangan di Indonesia naik 36% dari 22,1 ton di 2012 menjadi 30 ton.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads