Wakil Ketua Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) Victor Sitourus berpendapat ada alternatif cara yang bisa dilakukan bila pemerintah Indonesia keberatan membangun JSS. Caranya dengan mengembangkan pelabuhan yang sudah ada dan menerapkan sistem commuter ferry.
"Walaupun di dalam diskusi pernah kita bicarakan di Selat Sunda itu bangun yang namanya Pelabuhan Ferry Commuter. Sekarang ini Ferry ada 10 di sana sediakan 20. Pelabuhannya kurang besar dibesarkan, ombaknya lebih tinggi bikin peredam ombak itu jauh lebih murah," katanya saat ditemui di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Senin (3/3/2014).
Dengan cara itu, mobilitas kendaraan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya lancar dan tanpa gangguan. Sistem ini menurutnya jauh lebih murah dan efisien daripada membangun JSS.
"Saya datang bawa kendaraan ambil tiket dan saya tahu ferry nomor berapa saya berangkat. Ini jauh lebih efisien. Tidak ada antrean jadinya. Bahkan kalau cara ini dilakukan tentu jauh lebih murah. Sekarang ini jadi bagaimana ya," imbuhnya.
Mengapa jauh lebih murah? Baginya pemerintah cukup membangun dan merevitalisasi total pelabuhan yang sudah ada yaitu Merah dan Bakauheuni Lampung. Kemudian pemerintah hanya menginstruksikan untuk menambah jumlah armada kapal ferry oleh perusahaan penyedia jasa layanan kapal.
"Tetapi kita masih berkutat pada kebutuhan yang masih dasar seperti kapal dan dermaga rusak sehingga ngantrrnya panjang saya pikir itu. Jangan kapal lama digunakan lah ganti yang baru. Pilihan bisa kalau mau bikin jembatan selat sunda harus serius, kalau bikin kapal ferry," jelasnya.
Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera saat ini belum juga terealisasi.
JSS awalnya ditargetkan mulai groundbreaking tahun 2014. Proyek jembatan sepanjang 29 Km itu rencananya akan menelan dana sedikitnya Rp 100 triliun.
(wij/hen)











































