Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ini merupakann dampak dari pelarangan ekpor hasil tambang dalam bentuk mentah mulai 12 Januari 2014. Kemudian juga adalah penurunan ekspor batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
"Satu, ada pengaruh dari UU minerba khususnya terkait ekspor bijih besi. Kedua, terkait ekspor batu bara dan palm oil. Wajar di Januari itu mereka recontracting again. Kontrak dari ekspor batu bara itu sekarang 3 bulan, Januari ini mereka buat kontrak lagi. Seasonility-nya di Januari rendah," ujar Perry di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/3/2014)
Menurutnya ada peningkatan ekspor manufaktur yang cukup signifikan. Sehingga mampu untuk menjaga neraca perdagangan menjadi tidak terlalu buruk.
Terutama untuk Amerika Serikat (AS) yang sejak akhir tahun permintaannya meningkat. Harga barang yang berlaku untuk sektor ini juga lebih membaik dari yang sebelumnya.
"Positif news-nya ekspor manufaktur meningkat. Memang secara total ekspor non mgias turun tapi kualitas neraca non migas semakin membaik," sebutnya.
Ini pun juga akan berlanjut positif pada neraca transaksi berjalan yang masih defisit. Pada triwulan I-2014, diperkirakan defisit akan berada di bawah 2%.
"Kita masih yakini bahwa surplus neraca non migas di triwulan I akan naik di Februari ataupun Maret sehingga secara keseluruhan masih meyakini defisit transaksi berjalan di trwiulan I akan lebih rendah dari 2%," imbuhnya.
Pada kesempatan berbeda Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan hal yang senada. Pola neraca perdagangan pada Januari tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
"Tentu ada dampak larangan ekspor, karena bulan Desember ekspornya digenjot, tapi itu bukan faktor yang signifikan, karena memang ekspor Januari biasanya lemah, karena baru mulai ekspor," ujar Chatib dalam pesan tertulisnya.
Ke depan akan ada aturan yang cukup efektif dalam peningkatan ekspor. Salah satunya permberlakukan dari Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Sehinga ekspor akan terus meningkat dan neraca perdagangan tidak defisit lagi. Sedangkan untuk transaksi berjalan hingga akhir tahun diprediksi defisit pada kisaran 2,5%-3%.
"Semakin ke depan semakin besar ekspor. Selain itu, ingat bahwa KITE baru akan efektif Februari. Dan ini akan mendorong ekspor," ucapnya.
(mkl/hen)











































