Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum detikFinance, Rabu (5/3/2014), ada data menarik soal barang-barang yang diimpor Indonesia dari negara kecil tetangga, yaitu Singapura.
BPS mencatat, setidaknya ada 3 barang yang diimpor oleh Indonesia dari negara tetangganya tersebut.
Pertama adalah bahan bakar minyak (BBM). Sepanjang Januari 2014 lalu, Indonesia melakukan impor BBM sebanyak 1,2 juta ton dengan nilai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Dari nilai tersebut, impor BBM terbanyak berasal dari Singapura yang jumlahnya 886 ribu ton dengan nilai US$ 918,6 juta atau sekitar Rp 9 triliun.
Ketergantungan Indonesia terhadap BBM asal Singapura memang cukup tinggi. Tahun lalu saja, Indonesia mengimpor BBM dari Singapura sebanyak 9,6 juta ton dengan nilai US$ 9,7 miliar atau Rp 97 triliun.
Lalu barang kedua yang diimpor Indonesia dari Singapura adalah bawang putih. BPS mencatatkan, Pada Januari 2014 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor bawang putih 6.247 ton atau US$ 3,1 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 55,8 ton atau US$ 24 ribu diimpor dari Singapura. Data ini pun membuat Menteri Pertanian Suswono bingung.
"Singapura memang tanam apa?" kata Suswono kemarin.
Dirjen Hortikultura Kementan Hasanuddin Ibrahim mengatakan, catatan impor bawang putih dari Singapura itu tidak benar. Sebenarnya bawang putih itu diimpor dari China atau Tiongkok.
Kepala Bidang Hortikultura Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Benny Kusbini mengatakan Singapura hingga kini menjadi pelabuhan pengumpul (hub port) dalam perdagangan regional Asia Tenggara maupun internasional. Sehingga, bukan hal yang aneh apabila Negeri Singa tersebut bisa memasok atau mengekspor ulang produk-produk pertanian, seperti bawang putih hingga garam meski Singapura tak memproduksinya.
"Saya tegaskan, bawang putih itu dari China, bukan dari Singapura, itu kapal transit saja, kapal dari pelabuhan China, lalu ke Hanoi, Singapura. Singapura nggak punya, 1.000% salah kalau kita impor bawang putih dari Singapura," kata Benny.
Menurut Benny, yang terjadi selama ini praktik transhipment sesuatu yang biasa demi efisiensi distribusi barang. Biasanya kapal-kapal besar dari China yang membawa barang ekspor ke Eropa atau Timur Tengah juga membawa barang ekspor untuk negara Asia Tenggara seperti Indonesia.
Saat di Singapura, kapal-kapal besar itu membongkar dan menurunkan kontainer yang akan dikirim ke Indonesia. Kontainer asal China seperti yang berisi bawang putih, garam, dan sebagainya dikirim ke Indonesia dengan kapal yang lebih kecil ke pelabuhan Indonesia yang memang tak mampu menampung kapal-kapal ukuran besar karena pelabuhannya dangkal.
Lalu produk ketiga yang diimpor Indonesia dari Singapura adalah garam. BPS mencatat nilai dan volume impor garam di awal tahun 2014 meningkat signifikan. Kenaikan volume dan nilai impor garam pada Januari 2014 dibandingkan Januari tahun lalu melonjak di atas 70%.
Total garam yang diimpor selama Januari 2014 mencapai 278 ribu ton atau naik 78% secara volume. Sedangkan nilai impornya mencapai US$ 13,4 juta atau naik 75% secara nilai impor.
Dari total impor garam di Januari 2014, garam impor dari Singapura sebanyak 3,1 ton dengan nilai US$ 17 ribu. Tahun 2013 lalu, impornya mencapai 9 ton atau US$ 16 ribu.
(dnl/dru)











































