Hal itu terungkap dalam survei Beige Book yang dilakukan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve. Namun warga AS tetap optimistis kondisi ini akan berlalu seiring berjalannya waktu.
Kondisi cuaca yang sangat dingin ditambah beberapa badai salju menghambat pertumbuhan industri manufaktur, ritel, otomotif, dan konstruksi, sehingga data pertumbuhan ekonomi di beberapa negara bagian AS melambat.
Dari 12 negara bagian yang disurvei The Fed, rata-rata pertumbuhannya stagnan dan moderat. Perbandingannya satu banding tiga, setiap ada satu yang stagnan ada tiga yang moderat.
New York, Philadelphia, dan Chicago yang paling kena pengaruh cuaca buruk. Tiga kota itu sempat beberapa kali kena badai salju.
Tingkat pengangguran meningkat di semua wilayah, diiringi dengan naiknya harga kebutuhan pokok. Dalam beberapa bulan terakhir, AS masih kekurangan dan membutuhkan pekerja dengan keahlian khusus.
"Prediksi untuk seluruh wilayah AS tetap optimistis," kata The Fed dalam laporan Beige Book dikutip AFP, Kamis (6/3/2014).
Memburuknya ekonomi AS sudah dimulai sejak Desember lalu. Kondisi ini membuat analis dan pelaku pasar khawatir akan pertumbuhan ekonomi AS ke depannya.
Beberapa investor menerima kenyataan cuaca buruk mengacaukan segalanya. Namun ada juga yang berpikir kalau cuacau buruk selesai ekonomi AS masih tetap dalam tekanan.
Padahal, pekan lalu Gubernur The Fed Janet Yellen sudah menyatakan dengan jelas bahwa ekonomi AS baik-baik saja jika tidak ada cuaca buruk. Namun Yellen juga berkata masih akan mempelajari lebih lanjut data-data yang ada.
"Yang harus kita lakukan sekarang dan apa yang akan saya lakukan beberapa pekan ke depan adalah mencari tahu seberapa besar pengaruh cuaca terhadap data-data ekonomi ini," ujar Yellen.
Data-data ini sangat berpengaruh di mata pelaku pasar. Pasalnya, investor masih bertanya-tanya soal kelanjutan program stimulus pembelian obligasi The Fed senilai US$ 75 miliar per bulan.
Stimulus itu sudah dipangkas dari sebelumnya US$ 85 miliar, dan masih akan dipangkas lagi jika ekonomi AS membaik. The Fed akan kembali menggelar pertemuan guna membahas hal ini pada 18-19 Maret mendatang.
(ang/dnl)











































