"SPI (surat persetujuan impor) triwulan kedua yang akan segera kita keluarkan sekitar 270 ribu. Untuk semua feedloter. Tadi komposisi 60:40, 60 bakalan," ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (7/03/2014).
Untuk triwulan I-2014, atau Januari-Maret, Kemendag telah mengeluarkan SPI untuk 35 perusahaan untuk mendatangkan sapi sekitar 150.000 ekor, di antaranya 130.245 ekor sapi bakalan, dan 22.860 ekor sapi siap potong.
Bila dilihat, jumlah ini importasi sapi hidup jauh di triwulan II-2014 lebih besar dibandingkan izin impor yang dikeluarkan triwulan I-2014. Bachrul beralasan, karena ada momen lebaran dan puasa. Sehingga kedatangan sapi hidup dapat membantu manambah pasokan dan meredam lonjakan harga daging.
"Jumlahnya ada kenaikan 5% dari yang kita kementerian, estimasi itu naik dan bisa kita terima karena stabilisasi hari hari besar. Barang itu cukup untuk melakukan pemenuhan kebutuhan pasar menjelang lebaran. Komposisinya adalah sapi siap potong berkurang 50% dari yang diindikasikan. Jadi dilarikan ke sapi bakalan. Sehingga mereka punya waktu penggemukan sampai lebaran di Indonesia dan itu bisa kita terima," tuturnya.
Ke depan, Kemendag akan lebih banyak mengeluarkan izin impor sapi bakalan ketimbang sapi siap potong. Di samping harga sapi yang hampir sama, mendatangkan sapi bakalan jauh lebih bernilai tambah.
"Nah nanti akan menjadi 80% adalah bakalan. Sisanya sedikit saja sapi siap potong, karena sapi siap potong sekarang sudah tidak ideal. Dapat sapinya di Australia karena harganya hanya beda lima sen. Dan kalau tidak bisa digemukkan, rasio tulang dan dagingnya tidak memenuhi kriteria untuk dapat menjual Rp 85.000-90.000/kg. Untuk itulah sapi siap potong dikurangi lebih dari 50% dari target," tuturnya.
Sedangkan untuk sapi indukan, Kemendag baru merealisasikan jumlah kedatangan sapi sebanyak 2.500 ekor, dari 1 juta ekor yang ditargetkan di tahun ini. Bachrul mengakui, bila importir tidak terlalu tertarik untuk mendatangkan sapi indukan. Untuk itu akan ada kebijakan tertentu untuk merangsang importir mendatangkan sapi indukan.
"Sapi indukan itu tadi, kita minta instansi terkait bisa duduk bersama untuk cari kebijakan yaitu kita perlu sapi indukan jumlah besar untuk dapat akokodasi kekurangan, paling tidak kan dua juta itu kekurangannya dari target kita untuk tahun ini diharapkan pemerintah satu juta bisa masuk. Indukannya yang masuk saat ini baru 2.500 ekor," ujar Bachrul.
(wij/dnl)











































