Main Lego Cara Murah: Mencicil Saja

Lego: Antara Hobi, Mainan, dan Bisnis (4)

Main Lego Cara Murah: Mencicil Saja

- detikFinance
Jumat, 07 Mar 2014 19:01 WIB
Main Lego Cara Murah: Mencicil Saja
Foto: Istimewa
Jakarta - Harga satu set Lego mungkin cukup menguras kantong. Namun bagi mereka yang sabar, bisa membentuk satu set yang sama dengan biaya lebih murah. Caranya adalah berburu piece by piece, alias ketengan.

Salah seorang pelakunya adalah Stephanus Suryawan. Pria berusia 32 tahun ini merupakan salah satu penggemar Lego dan anggota Klub Lego Indonesia (KLI).

Stephanus sudah banyak menghasilkan karya dari Lego. Namun ada satu yang paling dibanggakannya yaitu bentuk Menara Eiffel. “Tingginya 108 cm. Saya mengumpulkan parts-nya secara nyicil dan butuh waktu 1,5 tahun,” katanya.

Ya, Stephanus memang tidak membeli set Lego utuh tetapi membeli bagian-bagian yang diperlukannya secara eceran alias ngeteng. Dengan cara ini, dia bisa membuat satu set Lego dengan biaya lebih murah.

“Untuk membuat Eiffel Tower, modal saya Rp 3,5 juta. Sekarang harganya ditaksir Rp 12 juta. Sudah ada yang menawar Rp 8 juta, tetapi tidak saya lepas,” tukas Stephanus.

Stephanus mencontohkan set Lego Star Wars seri Millenium Falcon keluaran 2007. Set tersebut sudah langka dan harganya bisa mencapai Rp 45 juta. Namun jika menyusun secara ketengan, harganya bisa jauh lebih rendah.

“Kalau ketengan, harga parts-nya ada yang mungkin Rp 100 sampai puluhan ribu rupiah. Namun totalnya tidak sampai Rp 45 juta, seharusnya tidak. Mungkin sekitar Rp 10 juta, bisa juga di bawah itu,” paparnya.

Menyusun set Lego secara ketengan memang butuh kesebaran. Tidak seperti membeli satu set utuh yang bisa langsung dirakit, pembuatan secara ketengan butuh waktu berbulan-bulan.

“Kalau barangnya mendadak ada semua, mungkin paling cepat 3 bulan. Nantinya pasti akan jadi, tetapi agak lama,” ujarnya.

Cara ini tidak hanya ditekuni Stephanus sebagai hobi, tetapi juga bisnis. Sejak 2009, Stephanus berbisnis jualan Lego mulai dari set lengkap, buku instruksi, dan tentunya parts secara ketengan. Toko online tersebut diberi nama Bricknesia.

Dagangan Stephanus laku sampai ke luar negeri. “Saya pernah mengirim ke Afrika Selatan, Jerman, Polandia, dan sebagainya. Enaknya Lego dia itu umum, semua orang main,” katanya.

Untuk parts, yang paling banyak dicari oleh konsumen adalah balok (bricks), tanaman, dan orang (minifig). Dari bisnis tersebut, Stephanus mengaku minimal bisa memperoleh omzet sekitar Rp 4-5 juta per bulan.

“Sebenarnya saya tidak sengaja berbisnis ini. Cuma butuh beberapa parts dari satu set, sisanya dijual saja. Bisnisnya seperti itu,” ucap Stephanus.

(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads