Gedung baru itu sebagai kantor pusat Perum Navigasi dan pusat pelayanan navigasi penerbangan atau Jakarta Automated Air Traffic Services (JAATS). Gedung ini dibangun oleh dana APBN Rp 369 miliar dan berlokasi pada lahan seluas 7,8 hektar. Lokasi kantor pusat dan JAATS ini terletak di Jalan Juanda No.1 Desa Karang Anyar, Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti saat acara peresmian menyatakan, dengan gedung baru ini diharapkan mampu memberikan pelayanan navigasi udara yang maksimal kepada pengguna jasa penerbangan.
Gedung baru ini dilengkapi oleh peralatan navigasi udara terbaru yang mampu memandu lalu lintas pesawat di wilayah udara Indonesia bagian barat.
"Gedung JAATS berfungsi sebagai tempat peralatan navigasi, untuk pengendali seluruh navigasi udara bagian barat. Dibangun menggunakan APBN Rp 369 miliar," Herry saat peresmian di Kantor Pusat Perum Navigasi, Banten, Senin (10/3/2014).
Herry menjelaskan, gedung baru Perum Navigasi ini mengadopsi konsep bangunan ramah lingkungan (green dan smart) dan dilengkapi sarana area resapan air raksasa atau danau.
Untuk mendukung tugas operasional peralatan navigasi, bangunan baru ini dilengkapi 2 kabel feeder dari 2 gardu induk yang berbeda. Untuk menjaga pasokan listrik dalam kondisi darurat, JAATS dilengkapi 1 genset generatorset cadangan dan server operasi sebanyak 2 unit UPS kapasitas 1.000 kv untuk back up selama 2 jam.
Hadir pada acara ini, Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Wakil Gubernur Banten Rano Karno. Mangindaan pada sambutannya menjelaskan, dengan berdirinya gedung baru Perum Navigasi ini, pelayanan navigasi udara di Indonesia khusus wilayah barat bisa lebih maksimal. Apalagi saat kepadatan lalu lintas udara terus yang meningkat setiap tahunnya. Gedung ini menurutnya lebih modern daripada gedung pengendali lalu lintas udara milik Bandara Heathrow London.
"Heathrow kalah dengan gedung ini. Ini harapannya bisa difungsikan dengan seoptimal mungkin," kata Mangindaan.
(feb/dnl)











































