Contohnya, dalam APBN 2014 pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, inflasi 5,5 persen, nilai tukar Rp 10.500 per dolar Amerika Serikat, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5,5 persen, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 105 per barel, lifting minyak 870.000 barel per hari, dan lifting gas 1,24 juta barel per hari setara minyak.
Namun sejumlah asumsi ternyata tidak sesuai harapan. Nilai tukar, misalnya, pada sepanjang 2 Januari sampai 17 Februari, yang terkuat adalah Rp 11.785 per dolar AS dan terlemah Rp 12.240 per dolar AS. Beberapa hari terakhir rupiah memang mengalami tren penguatan, tetapi masih berada di kisaran Rp 11.500 per dolar AS.
"Ada permasalahan yang mengganggu fiskal kita, salah satunya adalah rupiah. Kondisinya meskipun sudah ada penguatan dalam beberapa hari terakhir, tetapi masih di atas asumsi APBN yang sebesar Rp 10.500 per dolar AS,β kata Anny Ratnawati, Wakil Menteri Keuangan, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lifting minyak juga masih cukup jauh di bawah asumsi APBN 2014. Per Januari, rata-rata lifting minyak tercatat sebanyak 789.000 barel per hari. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bahkan pesimistis akan bisa mencapai target.
"Memang lifting minyak tahun ini tidak akan bisa mencapai target APBN 2014 sebesar 870.000 barel per hari,β kata Johanes Widjonarko, Pelaksana Tugas Kepala SKK Migas.
Berapa perkiraannya? Menurut Johanes, lifting minyak akan berada di kisaran 813.000 barel per hari. βItu adalah angka yang konservatif, karena lapangan-lapangan kita sudah cukup mature dan tidak ada penemuan baru yang besar," ujarnya.
Asumsi makro merupakan dasar perhitungan APBN. Jika ada asumsi yang meleset, maka anggaran yang sudah disusun akan berubah. Bukan tidak mungkin pemerintah harus menambah utang jika kondisi perekonomian tak sejalan dengan asumsi.
Dalam Nota Keuangan 2014 disebutkan bahwa setiap depresiasi kurs Rp 100 dari asumsi berpotensi menambah defisit anggaran sampai Rp 1,23 triliun. Sedangkan penurunan lifting per 10.000 barel per hari bisa menambah defisit sampai Rp 1,94 triliun. APBN 2014 saat ini direncanakan dengan defisit sebesar Rp 175,35 triliun atau 1,69 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Melihat perkembangan ini, apakah APBN-Perubahan (APBN-P) 2014 diperlukan dengan segera? Mengingat APBN-P biasanya disahkan pada pertengahan tahun, tetapi ada kalanya lebih cepat. Misalnya pada 2008, APBN-P dilakukan pada Maret karena lonjakan harga minyak.
Masalahnya, untuk tahun ini situasinya berbeda. Pembahasan APBN-P harus melibatkan DPR. Sementara para wakil rakyat sedang menjalani masa reses hingga awal Mei.
"Jika diperlukan APBN-P, paling cepat Mei karena DPR baru bulan Mei. Pemerintah sekarang membahas secara intensif kemungkinan untuk APBN-P. Kami akan sampaikan secara resmi pada posisi yang lebih pasti,β kata Chatib Basri, Menteri Keuangan.
(hds/DES)











































