Defisit Terancam Naik, Utang Bakal Menggunung

Mempertanyakan Nasib APBN 2014 (2)

Defisit Terancam Naik, Utang Bakal Menggunung

- detikFinance
Rabu, 12 Mar 2014 11:59 WIB
Defisit Terancam Naik, Utang Bakal Menggunung
Menteri Keuangan Chatib Basri dalam sebuah rapat dengan DPR untuk membahas soal APBN 2014. (Foto: Rengga Sancaya/Detikcom)
Jakarta - Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, pemerintah menetapkan defisit sebesar Rp 175,35 triliun atau 1,69 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun kemungkinan defisit anggaran akan melebar pada APBN-Perubahan (APBN-P) 2014, seiring pergeseran sejumlah asumsi makro.

Helmi Arman, Ekonom Citi Research, memperkirakan sejumlah asumsi makro yang akan diubah adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, dan lifting minyak. APBN 2014 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, nilai tukar Rp 10.500 per dolar Amerika Serikat, dan lifting minyak 870.000 barel per hari.

Helmi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,3 persen. “Untuk nilai tukar, indikasinya ke arah Rp 11.500-12.000 per dolar AS,” ujarnya, di Jakarta kemarin.

Akibat perubahan sejumlah asumsi ini, maka pendapatan dan belanja negara juga akan bergerak. “Kami memperkirakan defisit anggaran akan bertambah menjadi dalam kisaran 2-2,5 persen PDB (Produk Domestik Bruto). Ini artinya ada tambahan sekitar Rp 25-75 triliun,” kata Helmi.

Kenaikan defisit, lanjut Helmi, sudah pasti akan dibiayai dengan tambahan utang terutama penerbitan obligasi. Dalam APBN 2014, pemerintah mencanangkan penerbitan obligasi sebesar Rp 205,07 triliun untuk pembiayaan defisit.

“Belum jelas berapa kenaikannya dalam APBN-P, situasi masih bisa berubah. Namun sepertinya tambahan penerbitan obligasi akan di bawah Rp 50 triliun,” ujar Helmi.

Pemerintah, tambah Helmi, bisa menerbitkan obligasi valas seperti euro bonds dan obligasi ritel dolar. “Untuk obligasi rupiah, pemerintah bisa menerbitkan instrumen jangka pendek atau private placement (penempatan langsung) untuk mengurangi tekanan di penerbitan obligasi konvensional,” katanya.

Hatta Rajasa, Menko Perekonomian, menyatakan pemerintah belum mengambil posisi final mengenai APBN-P 2014. Namun dalam hal defisit anggaran, Hatta punya sikap tersendiri.

“Fiskal kita harus tetap sehat dan kredibel. Defisit tidak boleh melebihi dari 3 persen, walaupun UU memungkinkan sampai 3 persen. Kalaupun terjadi penambahan defisit, tetap harus ada batasnya dan kita juga harus menjaga kredibilitas fiskal kita,” kata Hatta.

Firmanzah, Staf Khusus Kepresidenan, menambahkan utang bukanlah satu-satunya cara untuk pembiayaan defisit. Pemerintah masih memiliki opsi penggunaan sisa anggaran dan penghematan.

“Nanti akan dilihat dulu pos-pos mana yang bisa dihemat. Kemudian yang jelas kalau tentang utang itu harus dilakukan secara hati-hati dan dijaga dalam porsi yang aman. Sampai sekarang porsi itu sudah dapat dijaga, tidak melewati batas ketahanan fiskal kita,” katanya.

(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads