Neraca Pembayaran RI 2004 Defisit US$ 0,8 Miliar
Rabu, 08 Des 2004 11:54 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pada 2004 akan mengalami defisit sebesar US$ 0,8 miliar sehingga cadangan devisa menjadi US$ 35,4 miliar atau setara dengan nilai 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Defisit tersebut akibat perkembangan dari ekspor, impor termasuk utang luar negeri pada tahun 2004. Untuk kinerja ekspor nasional cenderung masih bertumpu pada komoditas primer migas. Namun secara keseluruhan ekspor pada 2004 ini diperkirakan akan mengalami peningkatan 14,6 persen. Hal itu dipaparkan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dalam raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/12/2004).Sementara sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik, impor diperkirakan akan meningkat cukup tinggi mencapai 21,7 persen sehingga secara keseluruhan transaksi berjalan masih mencatat surplus. Pada periode yang sama, lanjutnya, neraca lalu lintas modal tercatat mengalami defisit. Berakhirnya program rescheduling utang luar negeri pemerintah dalam program Paris Club dan meningkatnya kewajiban pembayaran utang luar negeri swasta menjadi faktor dominan yang mengakibatkan naiknya arus dana ke luar. Sementara arus masuk modal asing ke Indonesia relatif masih rendah. "Dengan berbagai perkembangan tersebut kami memperkirakan necara keuangan Indonesia pada 2004 akan mengalami defisit US$ 0,8 miliar," kata Burhanuddin.Sementara untuk 2005, pertumbuhan kegiatan ekspor barang dan jasa secara riil diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi meski tergolong lebih lambat dibanding pertumbuhan 2004. Pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi itu didukung pertumbuhan volume perdagangan dunia yang masih kondusif meski relatif melambat dibandingkan tahun sebelumnya.Selain itu kapasitas produksi sektor penghasil barang ekspor diperkirakan juga akan meningkat. Salah satu indikasinya adalah pertumbuhan impor barang baku dan modal yang cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, kata Burhan, seiring dengan meningkatkan kegiatan investasi, konsumsi swasta dan ekspor, impor barang dan jasa diperkirakan masih akan meningkat.
(nit/)











































