Bos Pelabuhan Cikarang: Pedagang Tahunya Bongkar Muat Hanya di Tanjung Priok

Bos Pelabuhan Cikarang: Pedagang Tahunya Bongkar Muat Hanya di Tanjung Priok

- detikFinance
Rabu, 12 Mar 2014 15:21 WIB
Bos Pelabuhan Cikarang: Pedagang Tahunya Bongkar Muat Hanya di Tanjung Priok
Foto: Pelabuhan Cikarang (Wiji-detikFinance)
Cikarang - Selama ini, para pelaku usaha baik eksportir maupun importir hanya mengetahui satu tempat yang bisa melakukan kegiatan bongkar muat barang yaitu Pelabuhan Tanjung Priok. Padahal di 2010, Jababeka Group telah membuka pelabuhan kering tempat bongkar muat yang dinamakan Cikarang Dry Port (CDP).

Namun, hingga kini operasional CDP belum berjalan optimal, karena pelaku usaha masih menggunakan Tanjung Priok sebagai tempat bongkar muat mereka.

Padahal dari waktu ke waktu daya tampung Pelabuhan Priok semakin terbatas yang menyebabkan waktu tunggu bongkar muat tidak efisien.

"Dari zaman saya, pedagang (eksportir importir) cuma tahu Tanjung Priok, puluhan tahun hanya tahu Tanjung Priok. Jadi ini sudah puluhan tahun. Sekarang kan sudah ada CDP," ungkap Managing Director PT Cikarang Inland Port Benny Woenardi saat dialog terbatas di President Executive Club Kawasan Jababeka, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/03/2014).

Benny mengatakan, CDP mempunyai total areal lahan sebesar 200 hektar, di mana 70 hektar adalah areal pelabuhan, dan 130 hektar lainnya adalah areal logistik. Setiap tahun CDP mampu menampung 400 ribu hingga 2 juta Teus kontainer.

"Sekarang ini pedagang tidak hanya bisa setop barang di Priok ternyata setop barang juga bisa di CDP," imbuhnya.

Fasilitas lain yang dimiliki oleh CDP seperti tracking dan adanya Balai Besar Karantina serta Bea Cukai. Adanya dua lembaga itu mempermudah serta mempercepat proses bongkat muat di CDP.

"Ada bank, Bea Cukai, dan Karantina nggak di sana (CDP)? Itu adalah pertanyaan yang wajar," cetusnya.

Benny meminta, agar pemerintah ikut serta mempromosikan Cikarang Dry Port sebagai tempat bongkar muat barang. Cara itu dilakukan selain mengurangi tumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok juga dapat mengoptimalkan layanan Pelabuhan Cikarang.

"Karena dari awal kita dibentuk untuk membantu dwelling time di Tanjung Priok. Kalau mekanismenya bisnisnya ya terus seperti ini (tidak berkembang). Kalau butuh waktu ya waktunya lama (untuk berkembang)," ungkap Benny.

Benny mengaku kesulitan mencari para pelaku usaha yang ingin melakukan kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Cikarang. Hal disebabkan karena sebagian besar para pelaku usaha menginginkan bongkar muat dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok.

"CDP ini swasta dan semua aturan ada di pemerintah. Ada tim percepatan barang dan seterusnya dan sekarang siapa yang mengambil keputusan. Kita memang punya kepentingan, negara juga punya kepentingan loh," imbuhnya.

Bila cara ini tidak dilakukan bukan tidak mungkin waktu tunggu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok tidak akan bisa teratasi. Padahal keberadaan Pelabuhan Cikarang sangat penting sebagai pelabuhan cadangan penopang Pelabuhan Tanjung Priok.

"Ini usaha kita sendiri bahkan untuk koneksi kita yang cari sendiri ternyata. Balik lagi Priok akan terus stagnan dan mengalami bottle neck yang nggak selesai-selesai," cetusnya.
(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads