Malaysia Bangun Jalan 700 Km Tiap Tahun, Indonesia Hanya 70 Km

Malaysia Bangun Jalan 700 Km Tiap Tahun, Indonesia Hanya 70 Km

- detikFinance
Rabu, 12 Mar 2014 16:37 WIB
Malaysia Bangun Jalan 700 Km Tiap Tahun, Indonesia Hanya 70 Km
Jakarta - Dalam pembangunan infrastruktur jalan umum dan tol Indonesia tertinggal dibandingkan Malaysia. Penambahan jalan di Malaysia rata-rata mencapai 700 kilo meter (km) setiap tahunnya, sedangkan Indonesia hanya sanggup menambah jalan baru sekitar 70 km per tahun.

"Di negara kita pembangunan jalan baru pertumbuhan 70 km. Dengan luas wilayah lebih besar. Sedangkan Malaysia pertumbuhan jalan baru 700 km. Kalau China pertumbuhan 7.000 km per tahun," kata Anggota Komisi V DPR Nova Iriansyah pada acara diskusi infrastruktur di Kantor DPP Partai Demokrat di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (12/3/2014).

Penambahan infrastruktur jalan baru ini, ternyata sejalan pada pertumbuhan dan geliat ekonomi di masing-masing negara. Perekonomian Indonesia tumbuh hanya di kisaran 6%.

Padahal pertumbuhan ini bisa dinaikkan saat adanya pembangunan infrastruktur seperti jalan yang lebih banyak. Karena infrastruktur menurut Nova, mampu penggerakkan ekonomi.

"Di Indonesia perlu jalan baru. Kalau pembangunan jalan baru stagnan di 70-100 km per tahun. Itu pertumbuhan ekonomi mentok di angka 6%," sebutnya.

Nova punya wacana, pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia bisa dipercepat dan didukung oleh dana yang kuat. Caranya pemerintah harus berani mengambil sikap terkait pengalihan anggaran subsidi energi yang mencapai Rp 300 triliun untuk pembangunan infrastruktur jalan.

"Kita cabut subsidi BBM dulu. Sekitar Rp 200-300 miliar. BBM nggak disubsidi lagi. Itu simpel. Itu buat jalan dengan pembebasan lahan sekitar Rp 10 miliar per km. Bisa dihitung berapa km jalan yang dibangun. Itu hanya dari hemat BBM saja," terangnya.

Sementara itu, Anggota Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi Nasional, Darma Tyanto Sapto menilai keunggulan pembangunan infrastruktur jalan di Malaysia didukung komitmen pemerintah negeri jiran.

Mulai dari awal kemerdekaan hingga saat ini, pemerintah Malaysia memperoleh dukungan pembiayaan yang kuat dari perbankan syariah dan barat. Pendanaan ini kemudian digunakan untuk membangun infrastuktur jalan baru, dari utara hingga selatan Malaysia, di samping konsistensi pemerintah Malaysia dalam mendukung proyek jalan baru.

"Kenapa nggak bisa sama dengan Malaysia? Karena dia semenjak berdiri sudah fokus mau ke mana. Dia gabungkan jaringan pebankan Islam dan Barat (AS dan Eropa)," sebutnya.

Dengan komitmen pemerintah dalam pembangunan dan pembiayaan infrastruktur jalan baru, maka selanjutnya geliat investasi dan ekonomi Malaysia ikut terkerek naik. Seperti tumbuhnya industri kelapa sawit.

"Dia buat jaringan tol dengan resiko dan konsekuensinya, dia dampaknya positif kepada investasi di Penang dan Johor. Lihat jaringan dibangun negara. Investor luar pasti lebih pasti. Dia di back up jaringan keuangan barat dan Islam. Dia dapat dukungan finansial," sebutnya.

Indonesia sebetulnya bisa belajar dari sistem pembiayaan dan fokus pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur. Namun ketika komitmen pembangunan infrastruktur jalan baru tidak ada dari pemerintah Indonesia maka perkembangan ekonomi di Indonesia tidak akan merata.

"Kalau mau ikuti kita belajar dari Malaysia. Kita manfaatkan itu. Kita ditantang bangun infrastruktur. Tapi di Kalimantan jalan, jembatan, pelabuhan belum cukup. Sehingga investor Kembali ke Jawa. Kalau Sumatera dan Kalimantan nggak dibangun, pertumbuhan ke Jawa lagi," tegas Darma.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads