"Berawal dari masalah mahalnya pemberantasan gulma (tumbuhan pengganggu), kami berinisiatif untuk melakukan integrasi sapi sawit ini," kata Manajer PT Sulung Ranch, Dwi Hartanto kepada detikFinance usai menerima kunjungan Wakil Menteri Pertanian di kantornya Jl.Udan Said, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah akhir pekan ini.
PT Sulung Ranch yang merupakan anak perusahaan dari Citra Borneo Indah yang mengelola lahan sawit di Kalimantan Tengah ini mulai mengembangkan integrasi sapi sawit ini sejak 2006 dengan jumlah sapi awalnya 200 ekor berjenis sapi bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi mengklaim dengan program sapi sawit tersebut perusahaan berhasil memangkas biaya pemberantasan gulma sebesar 30% dan biaya pakan sapi sebesar 80%.
"Padahal dalam usaha peternakan sapi 80% biaya produksi ada di pakan, 20% baru yang lain," tambah Dwi.
PT. Sulung Ranch merupakan perusahaan yang sudah berhasil mengintegrasikan sapi dengan sawit. Merintis program ini dari 2006 Sulung Ranch kini sudah punya sistem yang mapan.
Berdasar pantauan di lokasi perkebunan yang berada di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, integrasi sapi sawit ini dibagi ke dalam dua bagian yaitu breeding (pembibitan) dan fattening (penggemukan).
Pemeliharaan Breeding dilakukan dengan metode semi intensif yaitu dilepas di kebun namun tetap dikontrol dengan menggunakan kawat beraliran listrik rendah sebagai pembatasnya, metode ini secara langsung akan mengurangi populasi gulma dan akan mengurangi biaya herbisida.
Desember 2013 kandang breeding ini akhirnya dibagi dua antara sapi bali murni dan sapi campuran, hal ini untuk menjaga kemurnian sapi bali yang memang sedang digalakkan pemerintah. Pemeliharaan fattening dilakukan dengan metode intensif dengan dikandangkan penuh dan pakan disediakan.
Sementara pakan sapi berasal dari limbah industri pengolahan kelapa sawit berupa pelepah kelapa sawit, bungkil kelapa sawit dan prone (limbah industri berbentuk cairan kental). Sisanya sekitar 20% dibeli dari pulau jawa karena memang tidak tersedia di Kalimantan Barat seperti tetes, dedak dan onggok.
"Kita akan terus fokus keduanya (breeding dan fattening) karena kita punya daya dukung pakan yang unggul," kata Manajer PT. Sulung Ranch, Dwi Hartanto.
PT. Sulung Ranch menargetkan tahun 2015 sudah memiliki populasi 15.000 ekor. "Mungkin nanti akan ada 2 kali impor lagi karena daya dukung lahan kita sangat memenuhi. Pak wamen juga sudah mendukung," tambah Dwi.
(hen/hen)











































