Pasar pun bereaksi positif. Indeks Harga Saham Gabungan menguat 3 persen dan menyentuh level tertinggi sepanjang 2014, yaitu 4.878,64 poin. Tidak hanya di pasar saham, nilai tukar rupiah pun ikut menguat di level Rp 11.355 per dolar Amerika Serikat. Kemudian imbal hasil (yield) obligasi negara tenor 10 tahun juga turun 10 basis poin menjadi 7,9 persen.
Namun memasuki pekan yang baru, 'Jokowi effect' sepertinya mulai mereda. Investor justru melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah terjadi penguatan signifikan akhir pekan lalu.
Pada Senin (17/3), IHSG ditutup sebesar 4.876,19 poin atau melemah 2,46 poin (0,05 persen). IHSG melanjutkan penurunan sehari setelahnya, ditutup 4805,61 atau turun 70,58 poin (-1.45 persen).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah juga melemah meski tipis saja. Pada Senin (11/3), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat Rp 11.272 dan sehari setelahnya melemah menjadi Rp 11.282.
“Di satu sisi, IHSG memberikan harapan dan peluang untuk melanjutkan kenaikan. Namun di sisi lain dapat menarik perhatian untuk profit taking. Jika kondisi ini dimanfaatkan untuk profit taking dan tidak didukung sentimen yang ada maka Jokowi Effect akan berkurang dan IHSG pun dapat kembali terkoreksi,” tutur Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, di Jakarta kemarin.
Untuk pekan ini, Reza memperkirakan IHSG akan berada di kisaran support 4600-4750 dan resisten 4895-4925. “Banyak harapan penguatan lanjutan. Namun dengan penguatan signifikan akhir pekan kemarin maka akan rawan dimanfaatkan untuk profit taking,” katanya.
Dian Ayu Yustina, Ekonom Bank Danamon, juga memperkirakan fenomena 'Jokowi effect' di pasar keuangan hanya berlangsung temporer. “Pencalonan Jokowi memang membawa optimisme di pasar keuangan, tetapi ini sepertinya hanya short term. Pasar masih akan mencermati faktor yang lebih fundamental seperti neraca perdagangan, transaksi berjalan, dan inflasi,” katanya.
Selain itu, lanjut Dian, sepertinya Bank Indonesia (BI) tidak membiarkan rupiah terlalu menguat karena berdampak pada penurunan daya saing ekspor dan mendorong peningkatan impor. Namun dalam waktu dekat, rupiah diperkirakan masih dalam tren menguat meski ada risiko pelemahan akibat kemungkinan memburuknya neraca perdagangan Februari dan pembayaran dividen luar negeri pada Mei-Juni.
“Jika Pemilu berjalan lancar, maka kami melihat rupiah akan kembali menguat hingga akhir tahun. Akan ada beberapa fluktuasi kecil pada September-Oktober, tetapi kami perkirakan rupiah akan berada di posisi Rp 11.058 per dolar AS pada akhir tahun ini,” papar Dian.
Eric Alexander Sugandi, Ekonom Standard Chartered Bank, berpendapat senada. Dia menilai 'Jokowi effect' merupakan euforia sementara. “Market melonjak karena masyarakat gembira. Setelah itu, ada kemungkinan akan terkoreksi kembali,” ujar dia.
Ketika pasar bergairah, lanjut Eric, potensi pelemahan justru terbuka karena investor cenderung melakukan aksi ambil untung. “Pasar tidak akan naik terus. Setelah baik biasanya investor akan profit taking,” katanya.
(hds/DES)











































