Jokowi di Mata Sejumlah Media Asing

Mengukur Jokowi Effect (5)

Jokowi di Mata Sejumlah Media Asing

- detikFinance
Rabu, 19 Mar 2014 17:44 WIB
Jokowi di Mata Sejumlah Media Asing
Jakarta - Joko Widodo sudah resmi diajukan sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Penunjukan Jokowi, sapaan akrabnya, sebagai capres sempat memunculkan euforia, meski dinilai hanya temporer.

Tidak hanya di dalam negeri, sejumlah media asing pun ikut mengikuti sepak terjang gubernur DKI Jakarta ini. Berikut adalah pandangan beberapa media asing mengenai Jokowi:

The Economist: Soroti Blusukan Jokowi

Majalah ini memiliki kolom khusus berisi features seputar Asia yang diberi nama Banyan. Pada awal tahun ini, Banyan menulis tentang Jokowi. Artikel tersebut berjudul No Ordinary Jokowi.
Β 
Artikel ini menulis seputar kebiasaan Jokowi blusukan, yang di satu sisi menunjukkan perhatian dan kedekatannya pada warga Ibukota. Namun bagi yang lain, blusukan ini dinilai sebagai pencitraan bahkan kampanye terselubung.
Β 
Kinerja dan terobosan Jokowi juga disebutkan. Seperti memulai kembali proyek monorel dan mass rapid transit (MRT), penyaluran Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar, sampai tetap kukuh menghadapi kritik menempatkan lurah yang beragama non-Islam.

The Economist: Soroti Blusukan Jokowi

Majalah ini memiliki kolom khusus berisi features seputar Asia yang diberi nama Banyan. Pada awal tahun ini, Banyan menulis tentang Jokowi. Artikel tersebut berjudul No Ordinary Jokowi.
Β 
Artikel ini menulis seputar kebiasaan Jokowi blusukan, yang di satu sisi menunjukkan perhatian dan kedekatannya pada warga Ibukota. Namun bagi yang lain, blusukan ini dinilai sebagai pencitraan bahkan kampanye terselubung.
Β 
Kinerja dan terobosan Jokowi juga disebutkan. Seperti memulai kembali proyek monorel dan mass rapid transit (MRT), penyaluran Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar, sampai tetap kukuh menghadapi kritik menempatkan lurah yang beragama non-Islam.

New Straits Times: Disebut Seperti Barack Obama

Media terbitan Malaysia ini menerbitkan artikel tentang Jokowi pada November 2013 berjudul Reflections on the Jokowi Phenomenon. Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa pihak yang optimistis menilai Jokowi seperti Barack Obama, dari bukan siapa-siapa menjadi presiden sebuah negara. Fenomena Jokowi lahir karena kekecewaan masyakarat terhadap para pemimpin, terutama akibat maraknya kasus korupsi.
Β 
Artikel ini pun menuliskan bahwa selama menjadi DKI 1, memang masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai dan butuh waktu untuk merampungkannya. Namun sepertinya masyarakat sudah meyakini bahwa Jokowi berkinerja bagus dan siap untuk melenggang ke Istana.
Β 
Kisah Jokowi pun dikatakan mirip dengan Benigno Aquino di Filipina. Rakyat yang sudah muak dengan korupsi mendambakan pemimpin baru yang menjanjikan.

New Straits Times: Disebut Seperti Barack Obama

Media terbitan Malaysia ini menerbitkan artikel tentang Jokowi pada November 2013 berjudul Reflections on the Jokowi Phenomenon. Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa pihak yang optimistis menilai Jokowi seperti Barack Obama, dari bukan siapa-siapa menjadi presiden sebuah negara. Fenomena Jokowi lahir karena kekecewaan masyakarat terhadap para pemimpin, terutama akibat maraknya kasus korupsi.
Β 
Artikel ini pun menuliskan bahwa selama menjadi DKI 1, memang masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai dan butuh waktu untuk merampungkannya. Namun sepertinya masyarakat sudah meyakini bahwa Jokowi berkinerja bagus dan siap untuk melenggang ke Istana.
Β 
Kisah Jokowi pun dikatakan mirip dengan Benigno Aquino di Filipina. Rakyat yang sudah muak dengan korupsi mendambakan pemimpin baru yang menjanjikan.

Sidney Morning Herald: Simbolisme Jokowi

Media Negeri Kanguru ini menulis artikel yang berjudul Red-hot Favourite Joko Widodo Launches Presidential Campaign in Indonesia. Artikel ini menulis seputar kegiatan Jokowi dalam kampanye di sejumlah tempat bersejarah di Jakarta, akhir pekan lalu.
Β 
Selain kegiatan kampanye, artikel tersebut juga menyebutkan simbolisme di baliknya. Jokowi memulai perjalanan di Jalan Teuku Umar yang merupakan simbol dari Aceh dan mengakhirinya di Stadion Cendrawasih, burung yang identik dengan Papua.

Sidney Morning Herald: Simbolisme Jokowi

Media Negeri Kanguru ini menulis artikel yang berjudul Red-hot Favourite Joko Widodo Launches Presidential Campaign in Indonesia. Artikel ini menulis seputar kegiatan Jokowi dalam kampanye di sejumlah tempat bersejarah di Jakarta, akhir pekan lalu.
Β 
Selain kegiatan kampanye, artikel tersebut juga menyebutkan simbolisme di baliknya. Jokowi memulai perjalanan di Jalan Teuku Umar yang merupakan simbol dari Aceh dan mengakhirinya di Stadion Cendrawasih, burung yang identik dengan Papua.

South China Morning Post: Difavoritkan Menang

Awal pekan ini, media asal Hong Kong tersebut menulis berita tentang dimulainya kampanye Pemilu di Indonesia. Namun South China Morning Post menyebutkan bahwa Jokowi menjadi favorit utama untuk menduduki kursi presiden.
Β 
Artikel ini berjudul Indonesia Starts Election Campaign with Jakarta Governor Joko Widodo Favourite to Become New President. β€œDia (Jokowi) menjadi favorit utama. Mungkin sulit bagi kandidat lain untuk mendekatinya,” kata Keith Loveard, Analis Senior Concord Consulting.

South China Morning Post: Difavoritkan Menang

Awal pekan ini, media asal Hong Kong tersebut menulis berita tentang dimulainya kampanye Pemilu di Indonesia. Namun South China Morning Post menyebutkan bahwa Jokowi menjadi favorit utama untuk menduduki kursi presiden.
Β 
Artikel ini berjudul Indonesia Starts Election Campaign with Jakarta Governor Joko Widodo Favourite to Become New President. β€œDia (Jokowi) menjadi favorit utama. Mungkin sulit bagi kandidat lain untuk mendekatinya,” kata Keith Loveard, Analis Senior Concord Consulting.

The Washington Post: Jokowi Effect

Media AS ini menulis artikel berjudul "The Key to Understanding Indonesia’s Upcoming Elections? The Jokowi Effect". Dalam artikel tersebut disebutkan mengapa Indonesia sampai terjangkit demam Jokowi.
Β 
Alasan utama adalah sepak terjang politiknya. Jokowi berangkat dari pengusaha furnitur di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bernama Surakarta alias Solo. Kemudian dia berhasil menjadi orang nomor satu di kota tersebut selama dua periode, dan kemudian 'diekspor' ke Jakarta.
Β 
Selama menjabat walikota Solo, Jokowi dikenal gigih melakukan reformasi. Melawan korupsi dan ramah terhadap pengusaha kecil adalah beberapa contohnya, yang membuat pria murah senyum ini meraup suara sampai 90 persen di Pilkada Solo 2010. Predikat ini masih melekat ketika Jokowi berkarir di Ibukota.
Β 
Alasan kedua, Jokowi dinilai lahir bukan dari kesepakatan di pintu belakang. Inilah yang membuat sosoknya menjadi segar dan mengancam status quo di percaturan politik nasional.

The Washington Post: Jokowi Effect

Media AS ini menulis artikel berjudul "The Key to Understanding Indonesia’s Upcoming Elections? The Jokowi Effect". Dalam artikel tersebut disebutkan mengapa Indonesia sampai terjangkit demam Jokowi.
Β 
Alasan utama adalah sepak terjang politiknya. Jokowi berangkat dari pengusaha furnitur di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bernama Surakarta alias Solo. Kemudian dia berhasil menjadi orang nomor satu di kota tersebut selama dua periode, dan kemudian 'diekspor' ke Jakarta.
Β 
Selama menjabat walikota Solo, Jokowi dikenal gigih melakukan reformasi. Melawan korupsi dan ramah terhadap pengusaha kecil adalah beberapa contohnya, yang membuat pria murah senyum ini meraup suara sampai 90 persen di Pilkada Solo 2010. Predikat ini masih melekat ketika Jokowi berkarir di Ibukota.
Β 
Alasan kedua, Jokowi dinilai lahir bukan dari kesepakatan di pintu belakang. Inilah yang membuat sosoknya menjadi segar dan mengancam status quo di percaturan politik nasional.
Halaman 2 dari 12
(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads