Caranya dengan mengunjungi situs customers service center Kementerian Perdagangan di djpen.kemendag.go.id. Cara-cara seperti ini biaya dikenal sebagai langkah market intelligence.
"Negara Malaysia dan Thailand juga banyak memanfaatkan sistem ini. Eksportir mereka berusaha menggunakan layanan ini untuk mencari tahu prospek, selera, regulasi impor yang kita masukan datanya ke web sana tetapi kita sudah sikapi dan bentengi. Intinya mereka berusaha mempelajari kita," ungkap Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Ari Satria saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais Jakarta, Kamis (20/03/2014).
Agar kejadian tidak terulang, situs pelayanan cari tahu potensi ekspor dan impor Indonesia diberikan pengaman. Saat ini hanya eksportir dan importir Indonesia yang sudah mendapatkan nomor registrasi yang dapat membuka situs ini.
"Eksportir harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Kemudian mendapatkan password yang dikirim via email. Di sana banyak informasi pasar dan market potensial," imbuhnya.
Sampai saat ini Kemendag mencatat situs tersebut sudah mempunyai members sebanyak 715 eksportir dan 640 importir.
Sementara itu di tempat yang sama Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Nus Nuzulia Ishak mengungkapkan Indonesia harus mewaspadai 3 negara di kawasan ASEAN. Ketiga negara tersebut berpotensi mengambil pangsa pasar Indonesia baik di dalam negeri maupun luar negeri.
"Pesaing kita Malaysia, Vietnam, Thailand," sebut Nus.
(wij/hen)











































