Deputi Kepala BKPM Achmad Kurnadi yang ikut hadir menjelaskan, rencana investasi Rusia ke Indonesia tetap berlangsung meski saat ini tengah terjadi krisis politik di semenanjung Crimea. Krisis tersebut membuat Rusia terkena sanksi dari AS dan Barat.
"Kita abaikan urusan politik. Itu di luar. Kami bicara ekonomi dan investasi. Secara bilateral, kami hormati masing-masing pihak," kata Kurniadi kepada detikFinance usai pertemuan Russia ASEAN Business Forum di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/3/2014).
Pertemuan kali ini merupakan lanjutan untuk melihat lebih jauh potensi bisnis dan investasi yang bisa diambil oleh Rusia. Begitu juga investor Indonesia bisa menjajaki kerjasama dan ekspansi bisnis ke Rusia.
"Mereka tentu miliki keunggulan seperti teknologi, modal juga. Ada perbankan juga. Pasar Rusia juga yang bagus untuk beberapa komoditi kita," sebutnya.
Kedatangan delegasi Rusia ke Indonesia merupakan bagian lawatannya ke negara-negara Asia Tenggara. Setelah ke Indonesia, delegasi Rusia akan terbang ke Malaysia dan Singapura.
Sementara itu, Konsulat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Rusia Baskara Prapdipta yang ikut menemani dan memfasilitasi pertemuan tersebut menjelaskan, investor yang datang ke Indonesia merupakan perusahaan di bidang manufaktur, perbankan, pertambangan, penerbangan, migas, energi, hingga sistem eletronik.
Lewat kemampuan ekonomi dan teknologi, investor asal Rusia bersedia memberikan transfer teknologi kepada Indonesia ketika kerjasama telah terjalin.
"Ada banyak kesamaan. Mereka punya teknologi, kemampuan finansial. Ada juga bahan alam. Kita juga bagus secara ekonomi dan infrastruktur kita butuh banyak," kata Baskara.
Kerjasama ini nantinya mampu mempererat hubungan di bidang ekonomi yang pernah mengalami masa pasang surut. Baskara mengakui, saat ini ada 2 perusahaan Rusia yang telah lebih maju di dalam menjalin kerjasama dengan Indonesia. Kerjasama tersebut antara lain di bidang otomotif oleh Kamaz dan transportasi kereta api oleh Russian Railways.
"Yang sudah jauh ada Kammaz di otomotif sama kereta (Russian Tailways) di Kalimantan Timur. Itu sudah serisu. Di tambang kita bangun smelter," sebutnya.
Baskara menjelaskan makin rutinnya pertemuan antara kedua negara akan berujung perjanjian investasi. Diproyeksikan, nilai perdagangan Indonesia dan Rusia bisa ikut terkerek ke atas. Pada tahun lalu, total perdagangan kedua negara sekitar US$ 3,4 miliar. Nilai itu akan tembus hingga US$ 5 miliar pada tahun 2015.
(feb/dnl)










































