Moge Ini Eksis Saat Krisis, Tangguh Saat Perang

Hobi Motor Gede (4)

Moge Ini Eksis Saat Krisis, Tangguh Saat Perang

- detikFinance
Jumat, 28 Mar 2014 17:20 WIB
Moge Ini Eksis Saat Krisis, Tangguh Saat Perang
Foto: Istimewa
Jakarta - Bicara motor gede alias moge tentu tidak lengkap tanpa Harley-Davidson. Meski banyak merek lain punya kemampuan sama, tetapi sepeda motor asal Amerika Serikat ini terlanjur identik dengan moge.

Harley-Davidson didirikan pada 1903 oleh duo William Harley dan Arthur Davidson. Perusahaan ini berkembang dan bahkan menjadi andalan militer AS pada Perang Dunia I. Ketika itu, Harley-Davidson memasok 15 ribu sepeda motor ke angkatan bersenjata AS.

Ketika depresi ekonomi besar-besaran pada era 1930-an, ekonomi AS terpukul dahsyat. Harley-Davidson pun terkena imbasnya. Penjualan menurun cukup drastis, dari 21 ribu pada 1929 menjadi 3.703 pada 1933.

Namun Harley-Davidson tak ciut nyali. Perusahaan tetap merilis varian-varian baru. Hasilnya, Harley-Davidson menjadi salah satu dari dua perusahaan sepeda motor yang sukses melewati depresi besar. Perusahaan lainnya adalah Indian.

Harley-Davidson pun kembali memasok sepeda motor untuk kubu sekutu pada Perang Dunia II. Hampir 60 ribu moge Harley-Davidson melintasi berbagai medan pertempuran. Ketangguhan ini diganjar penghargaan Army-Navy "E" Awards untuk keunggulan produk.

Harley-Davidson identik dengan moge karena sejak 1970-an perusahaan ini hanya memproduksi sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 700 cc. Moge ini memang didesain untuk perjalanan jauh.

Dengan sejarahnya yang panjang, Harley-Davidson bahkan sudah menjadi salah satu identitas AS. Menurut survei Brand Keys, Harley-Davidson menempati urutan ke-17 dalam hal merk paling patriotik yang menggambarkan Negeri Paman Sam. Harley-Davidson bersanding dengan Jeep, Coca Cola, Levi’s, Zippo, dan lain-lain.

Penjualan Harley-Davidson pun cukup moncer. Sepanjang 2013, penjualan Harley-Davidson secara global tercatat sebanyak 260.839 unit atau naik 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. AS masih menjadi pasar utama, disusul kawasan Asia-Pasifik, Eropa, dan Kanada.

Akibat penjualan yang naik, pendapatan bersih perusahaan pun terkerek. Tahun lalu, pendapatan bersih Harley-Davidson tercatat sebesar US$ 734 juta (Rp 7,3 triliun), naik dibandingkan 2012 yaitu US 623,9 juta (Rp 6,2 triliun).

β€œTidak diragukan lagi, 2013 merupakan tahun yang luar biasa bagi Harley-Davidson. Kami merayakan ulang tahun ke-110 dan terus mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan,” kata Keith Wandell, CEO Harley-Davidson.

Di Indonesia, distribusi dan penjualan Harley-Davidson dipegang oleh Mabua Harley-Davidson. Perusahaan ini berdiri pada 1997, atas prakarsa Soetikno Soedarjo dan Bambang Pramono Sungkono. Sejak pendiriannya, Mabua Harley-Davidson mampu menjual sekitar 5.000 unit moge.

β€œTadinya Harley mungkin hanya dimiliki para petinggi, pebisnis, atau kalangan atas yang secara status sosial memang cukup mapan. Namun dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini segmen market kami juga lebih meluas. Kini sudah banyak profesional muda, karyawan-karyawan dengan level manajerial ke atas dapat memiliki Harley," papar Youlanda Motoh, General Manager Country Marketing Communications and Club Supports Mabua Harley-Davidson.

Untuk tahun ini, Mabua Harley-Davidson memperkenalkan sejumlah moge varian terbaru bagi para penggemar moge. Di antaranya adalah Fat Bob, Street Glide, Street Bob, dan Super Glide Custom.

Soal harga, memang tidak bisa dibilang murah. β€œSekarang Sportster paling murah kami jual sekitar Rp 280 juta,” ujar Djonnie Rahmat, Presiden Direktur Mabua Harley-Davidson.

Bagaimana kisah Harley-Davidson dalam sejarah serta mesin V-twin yang legendaris itu? Simak juga infografis berikut ini:




(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads