Ini Harapan Pengusaha Logistik Kepada Presiden Baru

Ini Harapan Pengusaha Logistik Kepada Presiden Baru

- detikFinance
Senin, 31 Mar 2014 15:34 WIB
Ini Harapan Pengusaha Logistik Kepada Presiden Baru
ilustrasi
Jakarta - Para pengusaha berharap presiden baru Indonesia dapat memperbaiki ekonomi termasuk sektor transportasi laut dan logistik. Selama ini biaya logistik Indonesia termasuk paling termahal di dunia.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Logistik Carmelita Hartoto punya kriteria tersendiri soal sosok calon presiden yang akan memimpin Indonesia 5 tahun ke depan.

"Sosok presiden ke depan adalah pemimpin yang pro terhadap transportasi laut dan logistik. Jadi pemimpin yang bisa memahami negara kita adalah negara kelautan," ujar Carmelita dalam sebuah diskusi "Mencari Siapa Capres yang Memiliki Visi Konkret dalam Industri Pelayaran dan Logistik" di Gedung Menara Karya Kawasan Rusana Said, Kuningan, Jakarta, Senin (31/03/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Carmelita menjelaskan alasannya karena kedua sektor yaitu transportasi laut maupun logistik selama ini menjadi faktor utama menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Transportasi laut dan logistik nasional adalah urat nadi perekonomian Indonesia. Jadi tidak hanya masalah pendidikan dan kesehatan yang digembor-gemborkan," imbuhnya.

Menurutnya selama ini, rakyat menanggung mahal biaya transportasi dan logistik di dalam negeri karena kedua sektor tersebut kondisinya kurang terurus. Pengertian mahal bisa diterjemahkan baik dalam konteks biaya sebagai akibat dari dampak buruknya kedua sektor tersebut.

Di sektor logistik, daya saing Indonesia berada pada peringkat 59 dunia. Indonesia jauh di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Padahal menurutnya potensi demografi dan geografis bisa menjadikan peringkat Indonesia diperbaiki menjadi 15 besar dunia.

"Dengan potensi sumber daya laut dan logistik yang besar, Indonesia bisa memperbaiki rangkingnya di kawasan ASEAN bahkan menyalip Singapura," jelasnya.

Jembatan Selat Sunda Belum Mendesak

Terkait proyek pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Sunda (JSS) dinilai pengusaha belum mendesak. Pasalnya Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan memiliki banyak pelabuhan.

Wakil Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA), Asmari Herry mengusulkan lebih baik pemerintah merevitalisasi infrastruktur transportasi laut dan jalan darat yang ada sekarang daripada membangun JSS.

"JSS ini masih dalam bentuk kajian dan perencanaan. Kami bagian dari Kadin sektor Logistik menyatakan JSS tidak terlalu penting untuk dibangun. Dengan dana pembangunan yang begitu besar lebih baik digunakan untuk merevitalisasi infrastruktur pelabuhan untuk perbaikan jalan," katanya di acara yang sama.

Proyek jembatan sepanjang 29 km itu rencananya akan menelan dana sedikitnya Rp 200 triliun. Jumlah anggaran itu menurutnya terbilang cukup besar bahkan bisa membangun jalan baru dari Pulau Madura hingga Kota Medan.

"Dengan dana sebesar itu sama seperti membangun jalan baru dari Pulau Madura sampai Medan. Ingat cost melalui jalur darat ini lebih mahal," katanya.

Sedangkan di sisi yang lain, pembangunan JSS dinilai tidak adil khususnya kepada masyarakat di wilayah timur Indonesia. Hal ini akan berdampak pada gejolak sosial pada tidak meratanya pembangunan infrastruktur antara Indonesia barat dan timur.

"Kemudian ada dikotomi antara barat dan timur Indonesia karena dana pembangunan JSS begitu besar," cetusnya.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads