"Sejak Desember 2013 sampai Maret 2014, gaji kami belum juga dibayarkan, kami sudah berkali-kali diberi janji, namun lagi-lagi (Manajemen Merpati) ingkar janji," kata Pilot Merpati Ivan Siregar ditemui di Saudagar Kopi, Sabang, Jakarta, Selasa (1/4/2014).
Ivan mengungkapkan, berbagai cara dilakukannya untuk bertahap hidup, mulai dari mengorek simpanan, meminjam keluarga sampai meminta kepada orang tua.
"Saya bertahan hingga sampai saat iniu itu seperti mukjizat, mulai dari mengorek simpanan sampai pinjam ke orang tua, sebenarnya kita malu sekali ke orang tua, masak seorang pilot sampai masih minta sama orang tua," katanya.
Ivan mengaku, sulit untuk pindah ke maskapai lain, pasalnya Merpati sudah seperti rumah kedua baginya. Jasa Merpati kepada dirinya besar sampai dia bisa menjadi pilot.
"Sulit meninggalkan Merpati, saya 1991 mendapat beasiswa sehingga bisa jadi pilot, dan bekerja sampai 2004, kemudian keluar alias pindah ke maskapai lain, kemudian pada 2012 saya kembali lagi ke Merpati saya tidak bisa melupakan Merpati, Merpati itu seperti rumah bagi para pilot," katanya.
Namun, setelah menghadapi kenyataan selama 2012-2013 pembayaran gaji tersendat-sendat, bahkan sejak Desember 2013 gaji tidak dibayar, dirinya mulai berpikir untuk pindah ke maskapai lain.
"Walau saya masih berharap Merpati terbang lagi, karena ini perusahaan BUMN, milik pemerintah, tidak mungkin pemerintah diam saja, tapi melihat kenyataanya, gaji tidak dibayar, THR tidak dibayar, iuran Jamsostek sudah dipotong tiap bulan ternyata tidak dibayarkan, saya lihat seminggu ini, kalau tidak ada perkembangan saya akan pindah ke maskapai lain, walau berat saya harus juga pikirkan masa depan keluarga saya," tutupnya.
(rrd/dru)










































