Cerita Chatib Basri: RI Sukses Keluar Dari Daftar Negara Rapuh

Cerita Chatib Basri: RI Sukses Keluar Dari Daftar Negara Rapuh

- detikFinance
Rabu, 02 Apr 2014 11:27 WIB
Cerita Chatib Basri: RI Sukses Keluar Dari Daftar Negara Rapuh
Jakarta - Kondisi perekonomian dunia yang penuh ketidakpastian, menjadi ancaman bagi beberapa negara berkembang sejak tahun lalu. Lima negara dengan ancaman terburuk dan mendekati krisis ekonomi tersebut adalah Afrika Selatan, Turki, Brasil, India, dan Indonesia.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, salah satu penyebab ketidakpastian adalah penarikan stimulus quantitative easing (QE) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Kebijakan ini membuat kelima negara berkembang tersebut kehilangan uang segar yang tertanam di sektor keuangannya selama ini.

"Saya ingin mengingatkan satu hal penting. Kemarin lepas dari tahun 2008 adalah situasi abnormal. Masuk ke Mei tahun 2013 kita menuju ke situasi normal yaitu adalah situasi tanpa QE. Siapa yang terkena? Ada lima negara yang dikategorikan fragile five (5 negara rapuh), salah satunya Indonesia," ungkap Chatib dalam ASEAN Economic Congress di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Prediksinya saat itu, kelima negara akan mengalami kejatuhan ekonomi secara drastis. Terutama dari nilai tukar masing-masing negara yang dari sebelumnya juga sudah berangsur melemah setiap waktu. Seperti dolar dari sebelumnnya Rp 9.000, melemah sampai dengan Rp 12.300.

Chatib menilai, untuk mengantisipasi hal tersebut, harus ada kebijakan kuat dari regulator masing-masing negara. Seperti Indonesia, kata Chatib, yang mengeluarkan kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk meredam konsumsi dan mengurangi impor minyak.

"Termasuk juga dengan kebijakan biofuel. Agar impor minyak dapat diredam untuk perbaikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD)," sebutnya.

Alhasil, pada awal 2014, perbaikan untuk beberapa sektor terus terjadi. Seperti tren dalam negara perdagangan Indonesia yang surplus setiap bulannya. Di mana kemudian juga membantu penurunan CAD dan penguatan nilai tukar rupiah.

"Ada beberapa indikasi untuk perbaikan ekonomi. Saya baca beberapa media internasional itu menyebutkan Indonesia sudah keluar dari fragile five. Saya mengakui itu," tegas Chatib.

Meski demikian, Chatib menilai, bukan berarti reformasi struktural yang terjadi kemudian dihentikan. Beberapa pengetatan fiskal dan moneter yang dikeluarkan harus tetap berjalan. Agar kondisi yang sama tidak terulang lagi pada tahun-tahun mendatang.

Tahun 2014, pemerintah masih berfokus pada penjaga kestabilan perekonomian. Targetnya pada akhir tahun ekonomi tumbuh sebesar 6%. Seiring hal tersebut, kemudian akan dilakukan peningkatkan kualitas ekspor dari sumber daya alam di Indonesia.

"Kondisi sumber daya alam mentah tidak bisa lagi diharapkan. Harga komoditas akan terus jatuh. Makanya penerapan aturan minerba harus dijalankan," terangnya.

(mkl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads